Fasilitator Anak : Berfikir Positif

Hilmi harus dirawat inap setelah denyut nadinya semakin melemah. Dokter anaknya menyarankan untuk melakukan rawat inap sebelum keadaan Hilmi semakin tidak terkendali.

Kami belum pernah mengalami rawat inap karena sakit. Sebagai keluarga dokter, jika sakit kami akan melakukan observasi dan pengobatan secara mandiri terlebih dahulu. Namun, kali ini setelah melakukan rawatan secara mandiri, lalu berkonsultasi selama 2 hari dengan dokter spesialis anak, penyakit Hilmi belhm tertangani.

Setlah dua hari berkonsultasi dengan dokter anak, kami diminta melakukan pemeriksaan darah lengkap di salah satu laboratorium di kota medan. Lalu melihat kondisi fisik Hilmi, kami disarankan untuk melakukan rawat inap.

Jangankan bagi Hilmi, bagi saya ini juga babak baru yang saya jalani. 

Hilmi harus masuk ruang PICU (ICU Anak) agar perkembangan kondisinya bisa dipantau  secara lebih intensif.

Masuk ke ruang PICU kondisi yang harus dipersiapkan adalah mental. Hilmi kami temani dengan intensif, kami mendapatkan izin khusus, 2 pasien di kanan kiri Hilmi benar-benar gawat. 

Saat salah satu mengalami masalah serius, semua keluarga pasien yang ada di PICU saat itu diminta keluar. Hilmi melihat sendiri proses tenaga medis melakukan pertolongan pada pasien. Dan pasien tersebut berpulang.

Setelah beberapa menit, pintu kamar kami diketuk oleh salah seorang perawat, saya diminta segera ke PICU, Hilmi mengalami shock. Dia terdiam saat saya masuk ke ruangan. Saya pegang tangannya, dingin.

Saya tanya apa yang ada difikirannya, dia diam, dia cuma bertanya kapan dia bisa pindah ke ruangan dan tidur bersama saya.

Ujian berikutnya, adik bayi yang ada disebelah Hilmi harus dilakukan tindakan pembebasan jalan nafas, salah satu dokter bedah toraks di Medan dengan sigap melakukan tindakan medis, sibuk. Instruksi untuk melakukan beberapa hal kami dengarkan secara langsung, karena kami cuma dipisahkan oleh tirai.

Hilmi kembali shock, saya mencoba menjelaskan apa yang sedang terjadi, saya tuntun Hilmi untuk fokus pada dirinya sendiri. Mengajak bicara dan bercerita. Kembali dia bertanya kapan bisa pindah ke ruangan. Dia menanyakan perkembangan kondisi kesehatannya.

Selama di rumah sakit Hilmi lebih banyak mengamati dan bertanya, setiap perkembangan kesehtannya akan didengarkan olehnya dengan seksama. Bahkan jika kami berbicara dengan kode atau dari pembicaraan di telepon dengan keluarga yang saat ini masih tidak bisa menjenguk.

Pada akhirnya saya sampaikan kepada suami, agar dia mau menjelaskan kondisi kesehatan anaknya. Mempersiapkan Hilmi agar terus berfikir positif dan mengobati sakit yang dia alami.

Mengajak anak untuk bergikir positif saat kondisi menengangkan yang dihadapi anak bukan lah yang gampang. Saya tidak bisa mengalihkan dengan cepat dengan melakukan murajaah, melihat hp, mengajak anak bercerita dan sebagainya.

Hilmi memang harus segera pindah, saat dia shock saya pun sangat mengerti, karena perasaan kami sama.

Latihan berfikir positif memang membutuhkan kerja keras. Hilmi berhasil melewatinya.

Komentar

Postingan Populer

Juma Lau, Tempat Wisata Asri Dekat dari Medan

Let's Read, Menumbuhkan minat baca dengan menyenangkan.

Tentang Olfactory dan Gustatory