Fasilitator Anak : Tauhid

Mengajarkan Tauhid bukanlah perkara yang mudah. Bukan sekedar pengertian dan menyampaikan contoh-contohnya untuk dihafal. Kami sekeluarga sedang diuji, sudahkan menanamkan Tauhid sedari dini kepada anak-anak. 

Saat ini anak-anak sedang sakit, sudah 5 hari suhu tubuh mereka diatas 37'c. Kami berupaya untuk menurunkan demam yang mereka alami. Abinya memberikan obat, vitamin dan antibiotik. Saya bertugas memberikan makanan dan minuman yang bisa meredakan sakit anak-anak.

Di masa Pandemi Virus Corona ini, sakit bukanlah yang hal biasa untuk dihadapi, kecemasan kami meningkat, apalagi Hilmi anak ke-2 kami mulai batuk dan nafasnya pendek-pendek. Saya cemas sekali.

Saya berupaya menenangkan diri dan menyibukkan diri, begitulah cara saya untuk tidak larut dalam cemas. Namun saya tetap cemas.

Malam ini kami membawa anak-anak ke dokter anak, dokter tersebut  adalah teman suami saat kuliah di fakultas kedokteran. Dari hasil konsultasi dengan beliau, malam ini kami harus membawa anak-anak ke laboratorium terdekat dan bisa memberikan hasilnya falam 2 jam. Kami mengecek darah anak-anak kami, saya takut sekali. Kami belum pernah melakukannya, anak-anak awalnya tidak mau, Alhamdulillah setelah dijelaskan bahwa ini harus dilakukan untuk mengetahui lebih jelas penyakit apa yang sedang menyerang imunitas tubuh anak-anak kami, mereka mau.

Abinya mendampingi dengan sabar. Alhamdulillah anak-anak tetap tenang walau awalnya enggan harus merasakan jarum di lengan dan diambil darahnya.

Subhanallah, kepala saya sakit sekali, saya semakin cemas.
Saya niatkan melakukan beberapa hal, saya masih cemas.

Sedari pagi saya mendampingi anak-anak dengan membacakan buku, bercerita mengapa kita harus berdo'a. Melatih anak-anak yang merengek dengan memperjelas apa yang mereka rasakan. Saya ajak anak-anak mengenali apa yang mereka rasakan dari sakit yang diderita. Apakah perutnya sakit, kepalanya sakit, apakah susah bernafas, apakah sanggup berdiri dan lainnya.

Anak-anak sedaya upaya mereka tetap melaksnakan sholat, walau wudhunya tidak sempurna karena mengigil. Walau harus duduk karena masih pusing untuk berdiri. Subhanallah, begitu pun cemas saya tidak juga hilang.

Itu lah cobaan atas Tauhid kami, jika Allah kehendaki sembuh maka anak-anak akan sembuh, jika anak-anak akan diambil oleh yang ber-Hak, maka itu lah yang terbaik.

Buat saya dan suami tentu kami berharap kesembuhan, sedalam apapun Tauhid kami.
Kami memintakan kesembuhan, dengan segala upaya kami.

Syafakkallahu Ghaza.
Syafakallahu Hilmi.

#catatan27
#kelaskepompong
#bundacekatan
#ibuprofesional

Komentar

Postingan Populer

Juma Lau, Tempat Wisata Asri Dekat dari Medan

Let's Read, Menumbuhkan minat baca dengan menyenangkan.

Tentang Olfactory dan Gustatory