Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2021

Pengalaman Menjadi Speaker di Virtual Conference Hexagon City

Gambar
P ekan ketiga menjadi pekan yang lebih berwarna buat saya. Pada pekan ini saya menjadi salah satu speaker dalam virtual conference yang kami laksanakan di Hexagon City. Sejak pekan ke dua baik Mardika maupun Walikota mengingatkan kami untuk berkontribusi sebagai speaker bagi yang belum menjadi speaker pada pekan pertama dan kedua. Sebelumnya saat huddle pada Rabu, 17 Februari 2021, founding mothers Ibu Profesional, Ibu Septi Peni Wulandani memberi arahan kepada kami pentingnya virtual conference ini bukan saja bagi Ibu Profesional namun juga bagi Indonesia, seperti yang sudah dicanangkan saat Milad Ibu Profesional pada September 2020 Ibu Profesional menetapkan tahun ini sebagai tahun Semesta Karya , dan sebagai bagian dari Institut Ibu Profesional, Hexagon City turut serta dengan berkarya lewat projeck passion dan virtual conference . Pada saat Live di Zona O Pekan Ketiga (Huddle) tersebut, Ibu memaparkan bagaimana virtual conference Hexagon City berdampak bukan saja pada Hexago

Bukan (sekedar) Virtual Conference

Gambar
S epekan sudah event Virtual Conference digelar di Hexagon City. Sudah banyak Hexagonia yang terlibat baik sebagai speaker, bumblbee atau pun Butterfly. Dengan beragamnya tema yang diambil oleh para speaker, Hexagonia yang lain mendapatkan kesempatan yang sangat baik untuk belajar bersama. Bahkan sesuai dengan rancangan kegiatan virtual conference juga bisa disaksikan oleh masyarakat umum. Saya sangat tertarik dengan konsep gerakan perempuan yang diinisiasi oleh Institut Ibu Profesional ini. Walau pun ini adalah konfrensi perempuan yang digalang secara virtual namun kental sekali dengan permberdayaan yang justru mungkin memiliki kendala jika dilakukan secara offline.  Dalam virtual conference ini, kami kembali diingatkan value yang ada di Ibu Profesional yakni tidak ada peran yang receh dalam setiap peran yang diambil. Apakah berperan sebagai speaker, bumblebee atau pun butterfly. Setiap Hexagonia bisa menggoreskan peran secara optimal. Seperti minggu pertama, saat ini saya hanya berpe

Semarak Virtual Conference.

Semarak virtual conference menggema si seluruh Hexagin City. Tentu saja gema tersebut akan kami teruskan ke seluruh penjuru dunia. Saya membayangkan semarak virtual conference ini menjadi momentum lahirnya produktivitas perempuan Indonesia. Dalam virtual conference ini para Hexagonia diminta memilih peran yanh sesuai dengan potensi masing-masing. Ada yang bertugas sebagai Speaker, ada yang bertugas sebagai bumblebee, ada yang bertugas sebagai butterlfy dan ada yang bertugas sebagai participant. Seperti biasa tidak ada peran yang receh, value ini menjadi value diri setiap Hexagonia yang juga merupakan member ibu profesional. Saya belum menentukan sikap mau berperan sebagai apa, saya masih menikmati riuh rendah vitual confetence ini sebagai participant. Peran ini saya lakukan dengan menyaksikan tayangan yang sesuai kebutuhan saya. Seperti kelasnya mba Maria Ulfa yang mengupas tentang Public Speaking dan kelas Read Aloud yang saya ikuti dihari pertama virtual confetence ini dilakukan. Wah

Metode Six Thinking Hat dan korelasinya dengan minat bakat

Gambar
Sepanjang hidup kita akan menemui masalah. Dan sepanjang masalah hadir kita akan berupaya untuk menyelesaikannya. Akhir Januari 2021, Hexagonia dikenalkan dengan metode Six Thinking Hat. Mungkin bagi beberapa orang metode ini bukan lah metode baru. Metode yang diperkenalkan oleh Edward de Bono pada tahun 1985 ini banyak digunakan untuk menguraikan dan menyelesaikan permasalahan yang ditemui di lingkungan kerja atau pun organisasi. Medote Six Thingking Hat ini membagi pola berfikir yang kita gunakan dalam 6 topi yang berbeda, yakni topi putih, merah, hitam, kuning, hijau da n biru. De bono menyatakan tidak masalah menggunakan topi mana terlebih dahulu namun yang penting sebaiknya semua topi sudah kita gunakan sebelum menentukan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Dalam tugas di Hexagon city, kami diminta menggunakan metode ini untuk mengukur kontribusi dari tantangan yang kami hadapi di co housing dan cluster kami. Hasil diskuai kami, khususnya tim editor buku Tasmari adalah : Dalam