Let's Read, Menumbuhkan minat baca dengan menyenangkan.

Pada suatu sore, saat saya dan anak-anak sedang berdiskusi tentang sebuah tayangan berbahasa Minang, Hilmi anak saya bertanya, "Umi, bisa berbahasa Minang?". "Bisa, saketek-saketek (bisa, sedikit-sedikit)", jawab saya tersenyum.

Saya memang lahir dari keluarga minang, ayah dan ibu saya bersuku minang. Namun, kedua orang tua saya tersebut sudah lahir dan besar di Medan - Sumatera Utara. Saya memang mengenal bahasa Minang dari kedua orang tua saya yang masih mengadopsi beberapa kalimat atau pun istilah yang biasanya digunakan oleh suku minang dalam percakapan sehari-hari. Setelah dewasa saya mengetahui bahwa bahasa Minang yang kami adopsi ternyata bahasa Minang "pasaran". Sama halnya dengan bahasa Jawa, bahasa Minang juga memiliki bahasa Minang halus yang digunakan untuk memyampaikan kata atau kalimat secara lebih hormat kepada seseorang, dan saya tidak mengerti bahasa Minang halus tersebut.

Lalu bagaimana mempelajari dan mengajari bahasa Minang kepada anak-anak saya?, pertanyaan ini terus berputar di kepala saya. Buku dan cerita dalam bahasa Minang jarang saya temui. Keingintahuan anak-anak belum bisa saya tidak lanjuti untuk dikembangkan menjadi pembelajaran baru. Mempelajari bahasa Minangkabau, "ah.. saya harus mencari cara yang akan disukai oleh anak-anak".

Aha!. Saya buka saja kembali pelajaran dari kelas Bunda Sayang yang saya pelajari di Institut Ibu Profesional. Saya salah satu membernya. Saat di kelas Bunda Sayang tersebut, salah satu materi yang saya dapatkan adalah bagaimana membangun keluarga yang melek literasi. Dalam materi ini juga disampaikan Tips menstimulasi anak agar suka dan bisa membaca dengan senang.

Kirsch dan Jungebult dalam buku Literacy : Profile of America's Young Adult mendefenisikan letirasi sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi diri dan masyarakat. Seseorang baru bisa dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman bacaannya.

Sebagai member Ibu Profesional yang berada dalam kelas Bunda Sayang saat itu, kami membahas apa saja tahapan yang bisa dilatihkan dalam mendampingi anak untuk melatih keterampialan berbahasanya.

Bunda Septi Peni Wulandani, Founder Ibu Profesional menyampaikan 4 tahapan yang perlu dilatihkan ke anak-anak untuk meningkatkan keterampilan berbahasa pada anak-anak, yaitu :
  1. Keterampilan mendengarkan (listening skill)
  2. Keterampilan berbicara (speaking skill)
  3. Keterampilan membaca (reading skill)
  4. Keterampilan menulis (writing skill)

Saya dan suami mulai melakukan 4 tahapan sejak anak-anak di dalam kandungan. Stimulasi yang kami lakukan pada janin saat itu adalah dengan memperdengarkan suara kami, mengajak janin kami berbicara, bernyanyi, memperdengarkan murotal qur'an, musik klasik dan sebagainya. Selain berupaya meningkatkan bonding pada anak-anak kami, tujuan kami saat itu adalah menstimulasi anak dan melihat responnya. Berbagai gerakan saat mereka didalam rahim saya saat mendengarkan bunyi yang diperdengarkan menjadi tanda bagi kami bahwa anak-anak menyukai komunikasi yang kami lakukan.

Tahap mendengarkan (listening skill) ini kami teruskan dengan membacakan cerita atau pun membacakan dongeng, berkisah sebelum anak-anak tidur. Kesempatan membacakan cerita, mendongeng atau berkisah ini memantik kemampuan anak-anak untuk menyimak cerita yang kita sampaikan kepada anak-anak. Menyimak adalah proses lanjutan dari mendengarkan. Saat anak-anak menyimak apa yang disampaikan, otak anak melakukan proses penyerapan dan pemilihan informasi dalam otak sehingga informasi tersebut disimpan dalam long term memory (ingatan jangka panjang). Pada saat inilah otak bekerja dan berkembang dengan baik.



Tahap Berbicara (speaking skill). Dahulu saya senang membacakan sebuah buku anak dengan cerita saya sendiri. Biasanya saya memilihkan kata-kata sederhana yang bisa ditiru oleh anak-anak saya. Dengan melakukan hal itu, saya memiliki target anak-anak saya memiliki kosa kata yang mereka pelajari secara menyenangkan. Setelah buku cerita ditutup, saya terus melatihkan dengan membuat anak-anak tetap ingat dengan kosa kata yang baru dikenal. Caranya terkadang saya membuat tebak-tebakan, menuliskan, menggambarkan lalu mengajak anak-anak mengulang menyebutkan "kata" yang baru saja mereka ketahui.

Memang agak repot ya jika anak-anak terus bertanya ini dan itu. Anak-anak yang masuk dalam fase mengenal kata, mulai berbicara biasanya sering bawel, namun itu lah masa dimana anak-anak mengenal konsep kata. Maka tugas utama orang tua adalah mendengarkan, menyimak, serta terus memberi respon yang baik.

Saat ini permainan tebak kata sudah berubah menjadi bermain tebak isi buku. Dahulu kami memulainya dengan menebak gambar, judul, warna, setelah kemampuan bicara dan mengenal katanya anak-anak semakin berkembang, kami bermain tebak kata atau kalimat dalam sebuah cerita. Kegiatan tebak isi buku ini sangat menarik bagi anak-anak, saat kegiatan ini dilakukan anak-anak biasanya akan berebutan menjawab pertanyaan.



Tahap membaca (reading skill). Saya memiliki dua orang anak yang kemampuannya berbicara dan membacanya dicapai dengan gaya belajar yang berbeda. Ghaza, anak sulung saya memiliki gaya belajar visual spasial. Ghaza cepat belajar dari membaca buku, senang memegang buku, tahan duduk lama membaca buku. Adiknya Hilmi anak kinestetik yang bergerak terus. Kemampuan membaca Hilmi diperolehnya daengan cara membaca spanduk, banner, tulisan yang terpampang di jalan-jalan. Kami melatih kemampuan Hilmi membaca saat berjalan atau berpergian. Kami menunjukkan dan mengenalkan kata, kalimat, sampai Hilmi bisa berbicara dan membaca dengan lancar. 

Perbedaan gaya belajar anak-anak kami membawa kami orang tua mereka untuk terus mencari berbagai literatur dan metode agar anak tetap terlatih untuk bisa membaca dengan lancar. Hal penting lainnya anak memahami maksud perkataan kami dan perkataan mereka sendiri sesuai dengan perkembangan usia mereka. Setelah di tahap berbicara anak-anak biasa mendengarkan kami membacakan dongeng ataupun berkisah sebelum mereka tidur, kini, kami membiasakan anak-anak memiliki "reading time" sebelum mereka tidur. Jika ada hal yang ingin mereka ceritakan kami akan duduk bersama, tidak harus lama, biasanya kami sediakan waktu 10 sampai 15 menit untuk membahas cerita yang mereka baca.

Untuk menstimulus minat membaca pada anak-anak kami, kami juga secara rutin mengajak anak-anak ke perpustakaan dan toko buku. Hal ini kami lakukan agar anak terbiasa melihat koleksi buku baik yang bisa dipinjam maupun yang dibeli.




Anak-anak juga dibiasakan membaca petunjuk. Saat ini, anak-anak senang mengamati petunjuk digital. Petunjuk ini mereka sukai karena mereka bisa mencoba memahami cara kerja mesin digital, anak-anak juga mencoba memahami bagaimana informasi bisa disajikan secara digital.

Tahap menulis (writing skill). Kata kakek Pramudya Ananta Toer, Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Saat ini saya belum mengenalkan buku-buku Pram kepada anak-anak saya. Namun sulung saya sudah melirik buku karangan Andrea Hirata atau pun Tere Liye. Saya lalu menjelaskan bahwa mereka adalah beberapa penulis terkenal dari Indonesia, bahkan tulisan-tulisan mereka sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa.

Setelah menonton beberapa film seperti Laskar Pelangi, Herry Potter, Detecftive Conan, kami mencoba menjelaskan bagaimana versi buku dari film-film tersebut. Anak-anak memang masih lebih menyenangi komik. Wajar saja usia mereka masih mengena dengan bacaan jenis tersebut. Maka untuk melatih kemampuan menulis anak-anak, targetnya anak-anak bukan menjadi penulis. Namun, kami berupaya agar anak-anak memahami apa yang mereka fikirkan dan mampu menyampaikannya dengan struktur kata yang baik. Jika hal itu tidak dilatih tentunya anak-anak akan kesulitan menyampaikan konsep berfikir yang mereka miliki.

Anak-anak terkadang menulis diary, membuat komik sederhana. Sekarang anak-anak sudah terbiasa menuliskan apa saja keperluan mereka saat akan travelling, mereka  menulis tentang kegiatan yang mereka gemari, kami juga melatih anak-anak membuat resume kegiatan yang telah mereka ikuti lalu mempresentasikannya.



Tahukah ayah bunda, dari pengumaman hasil PISA 2018, Indonesia memiliki skor PISA yang rendah. Negara kita juga mengalami penurunan skor terhadap nilai membaca, metematika dan sains dari hasil PISA 2015.

PISA dan Standarisasi Pendidikan Internasional.

Sebenarnya apa sih PISA itu?. PISA adalah singkatan dari Programme for International Student Assessment atau Program Penilaian Pelajar Internasional. Program ini dibuat untuk menguji kemampuan akademis anak-anak sekolah secara rata-rata di setiap negara. PISA diselenggarakan oleh OECD (Organization for Economic CO-operation and Development). PISA melakukan penilaian dengan menguji anak-anak yang berusia 15 tahun. Bidang yang diuji adalah Matematika, Sains, dan Kemampuan Membaca. Setiap negara memiliki jumlah sampel yang berbeda-beda, OECD mengklaim ada 600.000 pelajar dari 72 negara yang diuji di PISA dari seluruh dunia.

Alasan pemilihan anak usia 15 tahun untuk diuji adalah karena usia tersebut adalah usia krusial dan dianggap sebagai usia yang sudah siap menghadapi tantangan dan perkembangan zaman. PISA ini mengukur kemampuan generasi muda di setiap negara , apakah akan siap atau tidak dengan perkembangan zaman. Penilaian PISA juga dirilis setiap tiga tahun sekali, di mana tiga tahun dianggap sebagai rentang yang sesuai untuk melihat rata-rata perkembangan anak di setiap negara. Waktu tiga tahun juga bertujuan agar negara yang mengikuti program ini memiliki tujuan jangka pendek dalam hal pendidikan anak, negara tersebut juga diharapkan bisa memperbaiki sistem pendidikan secara perlahan.



Pada Juni 2019, Kompas.com juga pernah mengangkat berita tentang rendahnya literasi baca di Indonesia, salah satu penyebabnya antaralain rendahnya akses baca di negara kita. Pada berita tersebut dibahas tentang hasil studi yang dipublikasikan dengan nama "The World’s Most Literate Nations", hasil studi itu menunjukan Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara yang di survei, hanya satu tingkat di atas Botswana. Hal ini menunjukkan bahwa minat baca di negara kita sangat rendah.

Pada berita tersebut, diketahui bahwa penyebab rendahnya minat dan kebiasaan membaca itu antara lain disebabkan kurangnya akses, terutama untuk di daerah terpencil yang ada di Indonesia. Ini terungkap dari Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). 

Peneliti di Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Balitbang Kemendikbud, Bapak Lukman Solihin, menyampaikan bahwa ada empat dimensi yang menjadi pokok bahasan dalam indeks tersebut, yaitu dimensi kecakapan, akses, alternatif, dan budaya

Dimensi kecakapan indikatornya berupa bebas buta aksara dan rata-rata lama sekolah. Dimensi akses terdiri dari perpustakaan daerah, perpustakaan umum, perpustakaan komunitas, dan perpustakaan sekolah. Lalu, untuk dimensi alternatif adalah upaya lain selain hal yang bersifat konvensional, misalnya penggunaan internet, membaca daring, dan media online. Dimensi budaya yang dimaksud adalah kebiasaan membaca pada masyarakat, contoh lainnya misalnya meminjam buku di perpustakaan, memanfaatkan taman bacaan, juga membaca koran dan buku. 

Dari hasil survei yang mereka lakukan, diketahui dari keempat dimensi tersebut akses adalah yang paling rendah, yaitu 23,09 %. Adapun dimensi kecakapan 75,92%, dimensi alternatif 40,49% dan dimensi budaya 28,50%. Jika kita cermati, ternyata akses merupakan masalah utama dari 4 dimensi yang berpengaruh pada rendahnya minat baca di Indonesia.

Buku Digital sebagai salah satu solusi.

Sebagai orang tua di era digital, masalah manajemen gawai bagi anak tentunya menjadi tantangan tersendiri. Anak-anak saya boleh menggunakan gawai sejak kelas 3 SD, itu pun harus dengan pendampingan. Saat ini usia anak-anak saya sudah diatas 9 tahun, anak-anak bisa mengakses sumber bacaan online, games online, namun kami menerapkan adanya "jam menatap layar" agar penggunaan gawai menjadi lebih terkendali. Kami tetap mendampingi dan mengarahkan. Kami mempersiapkan anak-anak untuk bisa memilah dan memilih apa yang bisa mereka akses sesuai tahapan usia mereka. 

Kembali kepada dimensi akses yang rendah dalam pembahasan penyebab rendahnya minat baca di Indonesia, saya fikir salah satu solusinya adalah penggunaan gawai untuk meningkatkan akses terhadap sumber bacaan. Lalu kemana akses tersebut digunakan?. Hal ini tentu menjadi catatan bagi kita para orang tua.

Let's Read, Perpustakaan Digital.

Let's Read adalah perpustakaan digital yang berisikan buku cerita anak, let's read dipersembahkan oleh komunitas literasi dan Asia Foundation. Program literasi yang telah menerima U.S Library of Congress Literacy Award atas inovasi dalam promosi literasi pada Desember 2017 ini, memiliki misi membudayakan kegemaran membaca pada anak Indonesia sejak dini. Misi tersebut dilakukan melalui tiga hal, yakni :
  1. Digitalisasi cerita bergambar
  2. Pengembangan cerita rakyat yang kaya kearifan lokal, dan
  3. Penerjemahan buku cerita anak berkualitas terbitan dalam dan luar negeri ke dalam bahasa nasional dan bahasa ibu.
Let's read sangat gampang dan menarik untuk digunakan oleh para orang tua. Nah, ayah bunda dan pembaca semua pasti sudah tidak sabar kan mengetahui hal menarik apa saja yang bisa kita dapatkan dari Let's Read ini. Menurut saya Let's Read ini menarik dan sangat bisa membantu menumbuhkan minat baca anak dengan cara yang sangat menyenangkan karena :


Aplikasi Let's Read bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan minat baca anak dengan melatih 4 tahapan keterampilan berbahasa. 
Di rumah, Anak-anak sudah bisa memadukan tahap mendengarkan, berbicara, membaca dan menuliskan kembali cerita anak yang ada di Let's Read. Kali ini saya mecoba dongeng Pangeran Jo Inyiak yang disajikan dalam bahasa Minangkabau kepada anak-anak.




Cerita anak disajikan dengan gambar dan warna yang menarik.



Cerita anak dalam Let's Read ini dapat dibaca dalam berbagai bahasa.


Cerita anak memiliki tingkat kesulitan baca yang dapat disesuaikan dengan usia anak.


Cerita anak tersedia dalam berbagai label.


Aplikasi Let's Read ini kompatibel dengan semua perangkat yang kita milik, aplikasinya tersedia dalam fotmat hp atau tab, laptop atau komputer. Cerita anak dalam Let's Read bisa dibaca dan digunakan baik secara online maupun offline.


Let's Read bisa diunduh secara GRATIS.

Menumbuhkan minat baca sampai ke pelosok negeri.

Saya sangat mengapresiasi hadirnya Let's Read ini. Saya memiliki sebuah cita-cita, saya ingin terlibat membantu terwujudnya keluarga melek literasi. Saya ingin terlibat dalam menumbuhkan minat baca sampai ke pelosok negeri. Saat ini saya terlibat dibeberapa organisasi dan komunitas. Saya bersyukur kami memiliki semangat yang sama sebagai penggiat literasi di lingkungan sekitar kami.

Let's Read ini memungkinkan keterlibatan masayarakat didalamnya. Kita dapat melihat siapa saja yang telah berkolaborasi pada program ini. Ada berbagai pengarang, ilustrator, penyunting, disainer, penerbit, dan organisasi yang terlibat didalam program ini.

Biasanya saat melakukan kegiatan literasi kepada anak-anak, saya dan teman-teman membuka buku dan berkisah dihadapan mereka, saat ini kami sudah bisa mengenalkan dan berbagi dengan media digital lewat perpustakaan digital Let's Read!


Kontribusi terhadap program ini juga bisa dilatihkan kepada anak-anak. Sekarang kami bisa menambahkan hadiah edukatif berupa cerita anak yang kami unduh dari Let's Read. Anak-anak bisa ikut menyiapkan print out cerita anak yang telah dijadikan buku mini dan siap dibagikan kepada teman-teman di tempat lain.


Kegiatan Berbagi Mainan dan Buku yang kami lakukan

Nah, banyak hal yang bisa kita pelajari bersama lewat Let's Read ini kan, baik untuk keluarga kita atau juga bisa dibagikan kepada anak-anak lain. Ayo segera unduh aplikasi Let's Read ya, rasakan keseruan dan manfaatnya.



Unduh Web Let's Read Disini

Unduh Aplikasi Let's Read Disini

Tulisan ini diikutsertakan dalam "Let's Read Competition"












Komentar

  1. Oala.. kak elva orang minang toh, pas denger kk elva baca cerita. Logatnya masih dapet banget. Di Pekanbaru banyak orang minang, jadi sering dengar mereka cakap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe..berarti lulus elva jadi urang minang ya, mba dyah..

      Hapus
    2. Xixixi.. iya kak. masih bisa diakui jadi urang minang.

      Hapus
  2. Wah, toss kak. Suami Sy pun berdarah Minang dari pihak ibu.
    Aplikasi let's read ini memang jadi alternatif solusi untuk milenial cinta membaca ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar..anak-anak elva jadi mengenal bahasa dan budaya minang juga..

      Hapus
  3. kadang suka miris liat indonesia banyak diposisi teratas ttg yg gk bagus2 yakan kak. tapi ya itu, klo ke pusda awak nengok tmptnya aja udh mlas apalagi harus baca buku disana. tapi untung ada lets read, kita bs baca dmn aja dan kpn saja yakan kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ke perpustakaan baik yang di pusda, atau perpustakaan kota Medan, sudah ada perkembangan juga di 2 perpustakaan tersebut.
      Saat di Jakarta kami menyempatkan ke perpustaan Jakarta yang di Cikini dan Perpustaan Nasional, khusus di perpustakaan nasional keren sekali menurut elva, ga cukup waktu seharian untuk menjelajahi lantai dengan berbagai fasilitas literasi.

      Kalau let's read ini sangat menyenangkan ya, benar sekali, kita bisa menggunakannya secara online mau pun offline..

      Hapus
  4. Wow, mantap ah tulisannya, keluar semua materi BunSay yg ttg minat baca. Syukaaa kali...kerenn. Btw selamat sudah upgrade blognya jd TLD ya Va... semangat produktif nulis terusss.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ka mia, sudah menjadi teman berbagi di blugsum..

      Hapus
  5. Wah baru tau ada cerita berbahasa Minang. Kalo bahasa Mandailing ada gak ya kak?
    Soalnya bapak anak-anak aja gak bisa.. padahal ada marga. Hihihi dia lebih jago bahasa Aceh ketimbang Mandailing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari yang elva cari tahu memang bahasa batak, mandailing belum ada, jika ada seru sekali apalagi kami yang tinggal di daerah yang suku ini merupakan salah satu suku mayoritasnya. Keren ya kalau setiap suku ada bahasa daerahnya..

      Hapus
  6. Lets read ini aplikasi yg tau bgt akan keadaan anak-anak jaman now ya. Anak-anak akan suka dan dapat manfaatnya..
    Ayok unduh 😀🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betulll....
      Emak - Bapak pun dapat bantuan aplikasi edukasi yang memudahkan ortu berbagi cerita, jadi ga mati gaya juga..

      Hapus
  7. Aplikasi lets read emang keren sekali.
    Saya dan anak anak suka.
    Gambarnya bagus warna warni, tulisannya besar besar.

    BalasHapus
  8. Beruntung sekali ada aplikasi ini, sangat membantu orang tua menyediakan buku-buku yang bermutu kepada anak-anak secara gratis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mba, bahkan bisa diprint juga dengan pilihan bentuk buku kecil, kita juga bisa berbagi jadinya..🤩

      Hapus
  9. wah, cara baca buku baruuu skrg ada di lets read. bahkan ada aplikasi mentorgue kak, itu ngbahas isi buku lgsg per point tanpa langsung baca semua isi buku 😂 cm blm diperuntukan untuk anak2 sih hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin tahap lanjutan ya mba, memang saya fikir aplikasi ini akan berkembang terus peruntukkannya..

      Hapus
  10. Perpusda sekarang udah keren ya va tapi masih sepi peminat juga ya.. miris lihat peringkat hiks..

    Btw baru tau ada aplikasi ini hehehe makasi Elva sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar ka, semoga Perpusda juga melakukan beberapa kegiatan promosi yang bisa menarik minat masyarakat kota Medan dan sekitarnya untuk datang dan menjadi anggota Perpusda.

      Nah itu diam aplikasinya keren, semoga abang kembar senang menggunakan dan membaca cerita anak yang ada di aplikasi ini ya..

      Hapus
  11. iya takjub pas buka aplikasinya ada buku cerita bahasa Jawa, Sunda, Minangkabau, kereen!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mba, jadi anak-anak kita juga tetap bisa mengetahui cerita anak nusantara dari berbagai daerah dan bahasa ya..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Juma Lau, Tempat Wisata Asri Dekat dari Medan

Tentang Olfactory dan Gustatory