Manajemen Organisasi


Akhirnya saya memutuskan memisahkan catatan mentorship saya sebagai mentor. Saya fikir saat ini menjadi proses belajar saya maka saya akan menceritakan proses belajar saya sebagai mentor bagi teman-teman mentee. Saat ini saya memiliki mentee. Pertimbangan saya saat menerima teman-teman saya memikirkan pendekatan belajar saya yang senang belajar dengan mengajarkan apa yang saya ketahui dan keterampilan yangs saya miliki sebagai proses belajar saya. Saya juga bersedia menerima 4 mentee dengan pertimbangan minngu ini saya akan menyudahi 2 kewajiban saya di 2 komunitas yang berbeda.


Setelah saling mengenal antara mentor dengan mentee di minggu pertama, pada minggu ke-2 kami diminta menetapkan TUJUAN. Langkah menetapkan tujuan ini dilakukan dengan mengajak mentee untuk memahami, dan mampu membuat pemetaan terlebih dahulu terkait 3 hal, yakni :
  1. Menetapkan apa yang ingin dicapai dari proses mentorship ini
  2. Mendampingi mentee dengan melihat bagaimana mentee menetapkan standart pencapaian, apakah tujuan mentorship yang mereka buat spesifik, bisa dicapai dan relevan dengan tujuan mereka melakukan tujuan mentorship ini. Pada bagian ini saya mengonfirmasi apakah mentee mengenal perencanaan dengan menggunakan metode SMART (Spesific, Maesurable, Achievable, Relevant dan memiliki Time-Bound).
  3. Mengonfirmasi apa yang dirasakan mentee saat menetapkan baik tujuan maupun perencanaan untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Saya ingin mendalami lebih jauh tentang Manajemen organisasi yang didalamnya terdapat leadership, komunikasi produktif, manajemen waktu dan emosi, serta kemampuan lainnya. Namun, target utama belajar saya sebagai mentor adalah melatih kedisplinan saya dalam membuat dan mewujudkan proses belajar.

Sebagai orang dengan minat Achievable, saya terbiasa mengerjakan beberapa hal secara pararlel, namun jika ini tidak dilatih dengan sungguh-sungguh yang ada saya tidak bisa menetapkan proses belajar saya. Saya tida akan memberi efek positif dan membahagikaan pada diri saya sendiri apalagi orang lain karena saya tidak bisa memenuhi kebutuhan belajar saya.

Memiliki 4 mentee dengan kebutuhan manajemen organisasi yang berbeda membuat saya berfikir utnuk membuat catatan khusus terkait leader community, minimal itu bisa menjadi catatan buat saya pribadi yang memang senang memimipin organisasi dan berkembang bersama dalam sebuah komunitas dan organisasi.

Dari hasil mentoring minggu 2 ini saya menjawab beberapa pertanyaan tentang manajemen organisasi, yakni :
  1. Kondisi yang dihapi oleh mentee saya ini, terkadang beliau merasa bahwa anggota beliau tidak bekerja sesuai dengan harapan beliau. Beliau merasa bahwa beliau tidak mengetahui cara Bagaimana menjadi leader yang bisa mempengaruhi anggota dan bisa menggerakkan anggota. Saat ini beliau sudah melakukan talents mapping, beliau termasuk dalam Cluster Influencer, memiliki bakat maxsimizer di urutan kedua peta bakatnya. Kami banyak ngobrol tentang teknik komunikasi yang telah dilakukan oleh mentee saya selama ini, memastikan apakah target yang di miliki oleh seorang maxsimizer sudah difahami oleh anggotanya. Menjadi orang yang memiliki bakat maxsimizer dalam urutan bakat dominan, hal yang harus dilakukan oleh seorang leader adalah melatih anggota untuk bisa mencapai target bersama, bukan hanya target leader secara pribadi. Pada kesempatan kali ini beliau bertanya apakah saya memiliki bakat Command yang kuat, kebetulan saya memang memiliki bakat Command yang kuat, namun saya fikir kepemimpinan dalam sebuah organisasi, komunitas tidak selalu diisi oleh orang-rang berbakat commander, bisa jadi bakat lain juga berperan didalamnya. Saya melihat mentee saya memiliki bakat arranger dan developler, untuk komunitas yang bersifat pemberdayaan kedua bakat tersebut sangat relevan dan dibutuhkan beliau sebagai leader.
  2. Mentee saya berikutnya memiliki masalah terhadap Value Organisasi. Perbedaan antara satu komunitas dengan komunitas lain yang beliau pimpin mendatangkan masalah sendiri bagi beliau. Perpindahan antara satu komunitas dengan komunitas lain untuk kita pimpin menjadi PR bagi leader yang memimpin komunitas lebih dari satu. Hal mendasar yang harus dilakukan oleh leader dengan gaya seperti ini adalah memahami masing-masing value organisasi yang berbeda satu sama lain. Memimpin dengan melihat keunikan setiap komunitas dan mampu mencari atau bahkan menciptakan peluang untuk menumbuhkembangkan organisasi dengan keunikan value tersebut harus dilakukan secara konsisten.
  3. Manajemen diri dan komunikasi. Mentee saya memiliki masalah dengan gaya komunikasinya yang to the point,blak-blakan. Beliau merasa tidak enak ketika menegur langsung. ada 2 jenis perasaan yang muncul ketika menegur secara langsung, merasa terlalu superior dan mendikte anggota komunitas dan terkadang merasa harus bicara secara terus terang agar masalah bisa selesai. Setiap leader akan besar bersama komunitas yang dipimpinnya jika berani mengambil sikap, namun hal lain yang juga harus dilakukan adalah berani bertanggung jawab atas sikap yang telah diambil. Teknik berkomunikasi dengan menerapkan gaya bicara, pilihan intonasi, waktu dan isi komunikasi sangat berperan pada sampai atau tidaknya komunikasi yang dilakukan oleh seseorang. Terlebih lagi dalam memimpin komunitas atau organisasi, leader yang "talk the walk" atau membiacarakan apa yang telah dilakukannya akan lebih memiliki daya dorong bagi anggota untuk ikut tergerak melakukan apa yang disampaikan oleh leader tersebut. Melakukan 2C atau "Clear dan Clarify" adalah cara efektif dalam mengkonfirmasi apakah komunikasi yang dilakukan oleh seorang leader dimengerti oleh member atau tidak.
  4. Manajemen waktu yang baik. Dalam memimpin sebuah komunitas atau organisasi manajemen waktu yang baik adalah salah satu kunci suksesnya seorang leader memimpin dan mensinergikan aktivitas pribadi dan aktivitas komunitas. Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan Metode SMART (Spesific, Measurable, Attainalbe, Relevant, Timely) atau spesifik, terukur, dapat dicapai, relevat dan tepat waktu. Memang alangkah baiknya membuat perencanaan sebaik mungkin, namun lebih baik mengerjakan secara maskimal apa yang telah direncanakan walau pun itu masih sangat sederhana.
Pada pekan ke-2 mentorship ini, kami dibebaskan menggunakan media yang bisa membantu kami untuk memaksimalkan proses perkenalan dan diskusi permasalahan yang dihadapi oleh mentee. Saat melakukan proses mentoring ini saya sangat bersemangat untuk mendalami masing-masing permasalahan dan mendorong setiap mentee untuk terlibat aktif dalam mengambil inisiatif dan memperoleh insight dari diskusi yang kami bangun.

Begitulah leadership dalam sebuah komunitas atau organisasi, permasalahan yang dihadapi oleh setiap leader bisa terkait pada berbagai hal dan tidak sama. Namun, ada tips yang bisa dipegang oleh setiap leader saat memimpin komunitas atau organisasi adalah :
  1. Berwawasan luas. Ketika leader omdo (omong doang) apalagi omongannya tidak mendasar, tidak berupa fakta maka anggota bisa saja menjadi tidak memiliki respek yang baik pada leader
  2. Bijaksana dalam menghadapi masalah. Leader yang baik adalah leader yang bisa bijaksana atau semua masalah yang dihadapi oleh anggota dan komunitas atau organisasi itu sendiri
  3. Membangun komunikasi dan interaksi yang menyenangkan. Menyenangkan dalam menyampaikan, isi komunikasi  tetap harus sesuai dengan tujuan komunitas atau organisasi
  4. Mau menerima masukan dan tidak sungkan meminta maaf jika melakukan kesalahan. Setiap leader juga manusia yang tidak luput dari kesahan dan khilaf, namun leader harus memberikan contoh yang baik. Mau menerima masukan anggota dan meminta maaf juga merupakan upaya yang baik untuk membuat komunitas dan organisasi menjadi wadah belajar bersama bagi setiap anggota
  5. Memberi apresiasi dan berempati pada anggota. Dengan apresiasi dan empati yang tepat dari seorang leader, hal itu akan membuat anggota merasa dihargai dan marasa bahwa leader mereka memperhatikan mereka.


Komentar

Postingan Populer

Juma Lau, Tempat Wisata Asri Dekat dari Medan

Let's Read, Menumbuhkan minat baca dengan menyenangkan.

Tentang Olfactory dan Gustatory