Keterampilan dan Pola Pikir Sukses bagi Pemimpin Masa Depan

 Keterampilan dan Pola Pikir Sukses bagi Pemimpin Masa Depan 

Buku ini menarik perhatian saat saya membaca halaman mukanya. Buku berbahasa Inggris ini juga menjadi teman belajar saya melafalkan bahasa Inggris lalu mencoba menerjemahkannya. Secara perlahan saya bisa memahami maksud dan tujuan buku ini dengan didampingi suami saya. Lalu, saya berusaha untuk membuat Review buku yang berjudul asli “The Future Leader”. 

Buku karangan Jacob Morgan yang dicetak pada tahun 2020 ini mengulas beberapa hal, diantaranya bagaimana para pekerja melihat para pemimpin mereka dalam menyikapi perubahan dunia. Teknologi, AI, dan gaya hidup "online" yang ekstensif telah mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Bagaimana kesehatan fisik/mental, interaksi sosial, dan kualitas kehidupan kerja menjadi hal yang dianggap sebagai hal yang penting. Lalu, pandemi COVID-19 datang. Pandemi Covid-19 telah mempercepat disrupsi digital yang mengakibatkan perubahan di tengah masyarakat sampai saat ini. 

Harapan yang dimiliki para pekerja adalah para pemimpin yang saat ini ada, tetap memimpin selama dekade berikutnya. Pemimpin yang saat ini ada diharapkan mampu membawa masyarakat ke dunia baru. Namun, Awal tahun 2020 yang penuh gejolak telah membawa kita pada perubahan dan dampaknya yang sangat besar terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi kita. Kita perlu mengetahui cara menemukan, mengembangkan, dan terlibat dengan para pemimpin masa depan yang kita perlukan untuk membantu bisnis dan organisasi kita.

Setelah membaca dan mengulas buku baru Jacob Morgan “The Future Leader” ini, saya melihat bahwa Jacob Morgan ini visioner, beliau sendiri sangat terlatih dan memiliki otoritas kepemimpinan. Setelah membaca buku ini, saya menyadari bahwa  Jacob Morgan memberi saya perspektif komprehensif tentang pola pikir dan keterampilan yang tepat yang  dibutuhkan oleh banyak orang untuk dapat memimpin secara efektif dalam sepuluh tahun ke depan dan seterusnya. 

Buku ini dibuat berdasarkan hasil pengamatan dan survey terhadap beberapa CEO terkemuka dunia. Dari CEO yang berasal dari Turki,  AS, Irlandia dan Australia.Para CEO yang mengisi survey berasal dari berbagai perusahaan seperti Mastercard, Oracle Best Buy dan Koc Holdings. Mereka telah menjawab serangkaian pertanyaan terstruktur dan datanya telah disusun dan dianalisis. Jawaban itu menghasilkan kotak wawasan dan arahan pandora tentang masa depan pekerjaan di dunia. 

Pemimpin-pemimpin dari tujuh juta pekerja yang mencakup tiga puluh lima industri di lebih dari dua puluh negara ini, menuangkan pengetahuan, pengalaman, dan pandangan jauh ke depan saat mereka masing-masing menjawab dua belas pertanyaan menantang yang sama. Terdapat empat belas ribu pengguna LinkedIn yang terlibat dalam survey online ini, para pemimpin ini menambahkan pandangan dan perspektif mereka ke sumber data besar yang telah dibuat Jacob.

Buku "The Future Leader" ini memberikan gambaran indah tentang kepemimpinan masa depan kepada saya. Kepemimpinan di masa depan akan menjadi " olahraga tim". Dengan gaya yang menarik, buku ini juga memiliki struktur pragmatis yang dibagi menjadi lima bagian yang masing-masing membawa justifikasi sendiri dengan kedalaman isi dan informasi yang terkandung di dalamnya. 

Sebagai contoh, penggunaan gambar mercusuar pada kutipan CEO yang ada di buku itu, seperti pedang bermata dua.  Sebagai pembaca saya tergelitik untuk cepat menyelesaikan buku itu karena saya melihat banyak hal menarik. Namun, saya tahu saya harus terus melacak dan mengikuti pemikiran dan berada dalam pola pikir yang benar untuk setiap poin baru dan menarik kesimpulan terhadap isi buku. Penulis juga sangat lihai menggunakan berbagai diagram, grafik, dan lembar data yang lebih dari cukup mendukung data dan pendapat yang terperinci sebagai salah satu publikasi menarik bagi buku ini.

Saat membaca pendahuluan, saya sudah penasaran, saya tidak sabar untuk terus membaca isi buku ini. Saya juga semakin penasaran dan ingin sekali mengunjungi FutureLeaderSurvey.com untuk mengikuti survey dan mengetahui mengevaluasi diri saya berdasarkan keterampilan dan pola pikir yang diuraikan dalam buku ini.

Salah satu bab yang menarik untuk dibaca adalah bab delapan, bab ini merupakan salah satu bab yang lebih pendek namun memiliki dampak besar bagi saya. Morgan menyampaikan bahwa "Moralitas, Etika & Transparansi" bagian utama dalam kepemimpinan. Morgan menyampaikan bahwa moralitas dan etika adalah saudara kembar yang tidak terpisahkan yang memiliki "Implikasi bagi pemimpin" yang harus bijak menempatkan dan mengomunikasikan urusan etis dan bermoral dalam ukuran yang setara.

Buku ini menggunakan referensi dari orang yang beragam seperti navigator awal dunia hingga atlet modern seperti Wayne Gretzky. Bahkan buku ini menggunakan tokoh fantasi Yoda dan Obi Wan saat mendeskripsikan kepemimpinan masa depan. Namun, dalam buku itu, Jacob Morgan dengan sangat hati-hati menggunakan sedikit fantasi untuk menyentuh aspek-aspek kecerdasan emosional yang terkadang gagal diterapkan oleh begitu banyak pemimpin yang sedang berkembang.

Buku ini memiliki argumen yang meyakinkan pada setiap aspek isinya. Buku ini dapat digunakan sebagai sumber motivasi bagi para pemimpin saat ini, bisa menjadi dokumen sumber bagi mereka yang bercita-cita menjadi pemimpin dan bacaan yang layak bagi siapa saja yang ingin menilai organisasi mereka dan menentukan apakah organisasi tersebut cocok untuk tujuan dekade berikutnya. 

Buku ini mendorong siapa pun yang mencari wawasan nyata tentang apa yang akan terjadi di masa depan bagi organisasi mereka. Dengan mendapatkan buku ini dan membacanya saya berpikir saya bisa membagikan isinya kepada orang lain atau organisasi lain.

Dalam bab penutup Morgan menuliskan, “Kepemimpinan dulunya adalah pangkat atau gelar yang dianugerahkan kepada seseorang, dan itu masih merupakan pendekatan yang biasa dilakukan oleh banyak dari kita. Untuk pemimpin masa depan, ini akan menjadi sesuatu yang harus mereka dapatkan ……. ”

Lalu apa Keterampilan dan Pola Pikir Sukses bagi Pemimpin Masa Depan?. Dari buku ini saya ingin mengangkat Enam tren yang sedang membentuk masa depan kepemimpinan. Hal ini saya bahas dalam review buku ini sebagai upaya yang akan saya lakukan sebagai persiapan diri dalam memahami kepemimpinan di masa yang akan datang

  • AI (Artificial Intelligence) dan teknologi

AI dan teknologi memberikan dampak terbesar yang mempengaruhi tren kepemimpinan dunia. Teknologi mengubah segalanya tentang cara kita hidup, bekerja, dan memimpin. Bahkan sepuluh tahun yang lalu, kepemimpinan benar-benar berbeda dengan saat ini. Pada masa itu, AI masih dalam masa pertumbuhan, teknologi kurang berkembang, dan saluran media sosial jauh lebih sedikit.

Sekarang, teknologi berkembang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Perkembangan Ini memiliki kekuatan yang merubah cara bisnis beroperasi dan orang bekerja: inilah yang memungkinkan sebagian besar perusahaan beralih ke pekerjaan jarak jauh pada tahun 2020, sesuatu yang mungkin akan menjadi praktik jangka panjang.

Pemimpin harus memanfaatkan teknologi baru dengan memahami apa yang terjadi di sekitar mereka dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi dan meningkatkan bisnis mereka. Tetapi pemimpin ini juga harus mengurangi ketakutan karyawan mereka akan digantikan oleh teknologi, atau harus belajar bagaimana menggunakan program baru. Seperti yang dikatakan Tim Cook dari Apple, "Yang harus kita semua lakukan adalah memastikan bahwa kita menggunakan AI dengan cara yang bermanfaat bagi umat manusia, bukan merugikan umat manusia."

Pemimpin harus tetap bersikap positif terhadap teknologi baru. Mereka harus meyakinkan para pengikut mereka agar tidak takut pada perubahan teknologi. Namun, mereka tidak perlu menjadi ahli teknologi, mereka hanya membutuhkan pemahaman dasar tentang apa yang berubah di ruang teknologi, sehingga mereka dapat merangkul AI dan teknologi alih-alih takut akan hal itu.

Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengembakan sisi manusiawi kepemimpinan. Pemimpin masa depan perlu menyeimbangkan AI dan teknologi dengan keterampilan manusia. Melalui buku ini saya diingatkan bagaimana harus membangun hubungan, melatih empati, dan belajar mendengarkan dan berkomunikasi.

  • Kecepatan perubahan

Buku ini semakin menarik ketika mengingatkan saya pentingnya bergandengan tangan dengan AI dan teknologi, yang kedua hal tersebut merupakan hal asing bagi saya.  Saya diajak berpikir dan melakukan refleksi apakah saatnya melakukan perubahan secara menyeluruh. Saya menyadari, perubahan dalam cara kita hidup dan bekerja terjadi lebih cepat dari sebelumnya. Saat ini kita bisa menyaksikan bagaimana tren berputar lebih cepat; produk dan ide tidak relevan untuk waktu yang lama. Namun, apa yang disampaikan pemilik Royal Caribbean Cruises, menyadarkan saya, kalimat "Langkah perubahan hari ini lebih lambat daripada sebelumnya”, memang sedang terjadi. Dalam kehidupan nyata saat ini kita melihat ada gerakan bekerja dengan perlahan, tidak terburu-buru meskipun tren sedang berubah begitu cepatnya.

Sebagai seorang pemimpin, saya menilai diri saya, apakah saya  bersedia mengambil resiko – untuk 'menjadi perubahan' – akankah saya memimpin menuju kesuksesan terbesar dalam organisasi saya?. Apakah saya sudah gesit, mudah beradaptasi, dan nyaman menentang status quo. Dimana posisi saya jika saya menjadi pemimpin, apakah menerima perubahan atau takut pada perubahan tersebut.

di buku ini Jo Ann Jenkins, kepala eksekutif AARP menyampaikan bahwa “Organisasi yang tidak terus belajar dan beradaptasi akan kehilangan keunggulan kompetitifnya.” 

Buku ini mengingatkan untuk sering-sering bereksperimen dan uji ide, baik untuk diri sendiri maupun tim. Pemimpin harus terus mencari cara baru dan lebih baik dalam melakukan sesuatu untuk membangun kebiasaan evolusi berkelanjutan. Pemimpin adaptif diminta untuk merangkul ketidakpastian dengan memperhatikan tren yang mempengaruhi industri, perusahaan, dan karier. Saya jadi teringat pada materi design thinking yang saya terima saat mendalami sesi training organisasi.

  • Tujuan dan makna

Karyawan, member, anggota adalah landasan dari setiap organisasi atau perusahaan dan kekuatan mereka semakin meningkat dari waktu ke waktu. Ketika mengetahui tujuan dan makna organisasi atau perusahaan, karyawan, member, anggota terdorong untuk merenungkan tujuan hidup mereka dan hampir setengahnya mempertimbangkan kembali pekerjaan yang mereka lakukan sebagai hasilnya.

Tujuan dan makna adalah dua bagian yang sama pentingnya, walaupun memiliki persamaan yang berbeda. Tujuan adalah maksud dari pekerjaan: tujuan Anda menciptakan dampak atau hasil, yang kemudian mendorong makna, atau mengapa Anda melakukan apa yang Anda lakukan. Faktanya, 70% karyawan mengatakan tujuan mereka ditentukan oleh pekerjaan mereka. Pemimpin perlu mengatur nada dengan menciptakan budaya yang mengutamakan lebih dari sekedar uang. Dan mereka perlu menyadari makna mereka sendiri sebelum mereka dapat membantu karyawan melakukan hal yang sama.

Hal yang bisa dilakukan akan kondisi di atas adalah memahami pekerjaan, tujuan, dampak, dan makna sebagai pemimpin. Bahkan jika Anda belum berada dalam peran kepemimpinan, Anda dapat bekerja untuk menemukan makna dari pekerjaan Anda. Bagaimana kontribusi Anda terhadap tujuan perusahaan yang lebih besar?.Kenali kolega dan pemimpin Anda sebagai individu. Pelajari tentang motivasi unik yang mendorong tujuan dan maknanya

  • Pemandangan bakat baru

Salah satu hal yang juga berubah adalah cara perusahaan menarik dan mempertahankan bakat berubah secara mendalam, terutama saat karyawan yang lebih tua pensiun dan generasi baru memasuki dunia kerja. Pada saat yang sama, keragaman dan inklusi telah menjadi isu penting yang penting bagi karyawan dan pemberi kerja. Pemimpin masa depan harus fokus pada keduanya – tidak cukup hanya menempatkan orang dari latar belakang dan demografi yang berbeda dalam satu tim. Pemimpin perlu bekerja untuk memastikan bahwa karyawan diterima, merasa diterima, dan dapat membawa seluruh diri mereka untuk bekerja. Perubahan yang didorong oleh teknologi baru menjadikan pelatihan dan peningkatan keterampilan karyawan semakin penting. Karyawan perlu mengendalikan pengembangan pribadi dan profesional mereka sendiri, tetapi pemimpin dan organisasi juga perlu memberikan bimbingan dan bimbingan untuk memberi karyawan alat yang mereka butuhkan untuk berkembang dan tumbuh.

Pemimpin harus bisa menggunakan pengaruh apapun yang dimilikinya untuk membuat tim yang beragam. Karyawan di setiap tingkatan dapat menuntut tim yang beragam, dan mereka yang berada di posisi manajerial dapat mempekerjakan orang yang beragam. Setelah Anda membuat tim yang beragam, bekerjalah dengan rajin untuk memastikan bahwa setiap orang merasa memiliki dan dihargai. 

Berpartisipasi dalam program bimbingan. Karyawan yang lebih muda dapat belajar dari karyawan yang lebih berpengalaman, atau membimbing karyawan yang lebih tua dalam hal-hal seperti teknologi dan media sosial. Terus evaluasi keterampilan dan peningkatan keterampilan Anda seperlunya. Jangan berasumsi bahwa apa yang Anda pelajari di sekolah atau saat pertama kali mulai bekerja adalah semua yang perlu Anda ketahui sekarang.

  • Moralitas, etika dan transparansi

Dulu para pemimpin yang paling keras, paling berani, dan paling didorong oleh ego adalah mereka yang mendapat perhatian dan tampaknya paling sukses. Hari-hari itu telah berlalu, dan gelombang baru pemimpin pelayan yang rendah hati telah menggantikannya. Dorongan untuk moralitas, etika, dan transparansi telah menghasilkan pemimpin yang lebih otentik dan rendah hati.

Penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dengan landasan etika berkinerja lebih baik secara finansial dan memiliki kepuasan pelanggan dan karyawan yang lebih tinggi. Dalam sebuah studi, perusahaan dengan skor terbawah dalam etika bisnis empat kali lebih mungkin mengalami kerugian harga saham yang parah dibandingkan rekan dengan skor tertinggi.

Kebutuhan akan transparansi tidak pernah sebesar ini. Melalui media sosial, para pemimpin berada di bawah sorotan terang. Pada saat yang sama, karyawan, pelanggan, dan pemegang saham menuntut pemimpin otentik yang tidak bersembunyi di balik gelar mereka tetapi secara aktif terlibat dengan perusahaan mereka dan menunjukkan kepribadian dan nilai-nilai mereka. 

Oleh karena itu, para pemimpin masa depan harus menentukan kompas moral mereka dan memiliki pemahaman yang kuat tentang keyakinan pribadi mereka. Mereka harus dapat dipercaya, otentik, transparan, dan bertindak sesuai dengan kode moral pribadi mereka.

Pemimpin harus bisa membuat definisi sendiri tentang kepemimpinan. Pikirkan tentang apa yang penting sebagai seorang pemimpin dan karakteristik serta keterampilan apa yang menjadi prioritas dalam diri para pemimpin, kemudian berusahalah untuk membangunnya dalam diri kita sendiri. Dengan definisi yang kuat, seorang pemimpin dapat menerapkan filter untuk mempromosikan dan melatih pemimpin masa depan terbaik.

Buku ini mengingatkan untuk membuat kode etik pribadi. Saatnya memutuskan apa yang diperjuangkan dan pedoman pribadi yang akan diikuti untuk membuat keputusan yang baik. Menetapkan kompas etika dan moral sekarang ini akan memudahkan untuk kita membuat keputusan yang tepat, meskipun itu sulit. Membangun budaya transparansi dapat dibangun sebagai modal bagi pemimpin masa depan.

  • Globalisasi

Peningkatan konektivitas dan teknologi membuat dunia lebih kecil. Saat ini, semua organisasi bersifat global, dengan potensi untuk menjangkau khalayak internasional dan mempekerjakan karyawan dari seluruh dunia.

Hal itu adalah peluang besar. Pierre-Andr√© de Chalendar, kepala eksekutif dan ketua Saint-Gobain, menunjukkan bahwa sisi lain dari konektivitas global ini adalah “kembalinya kekhususan regional yang kuat. Pengetahuan yang baik tentang budaya lokal adalah syarat penting untuk sukses.”

Pemimpin masa depan harus menjadi warga dunia yang menghargai budaya yang berbeda dan dapat berkomunikasi melintasi hambatan budaya dan bahasa. Mereka perlu memahami masalah geopolitik yang kompleks. Mereka tidak bisa lagi memimpin di sebuah pulau: mereka harus memahami, dan bersiap untuk terlibat dengan isu-isu global.

Menjadi warga dunia. Itu tidak berarti Anda harus tinggal di tempat lain di dunia, tetapi itu berarti Anda harus mampu memimpin dalam situasi yang berbeda dengan belajar dan mendengarkan orang-orang dari budaya dan latar belakang yang berbeda.

Review Buku Pemimpin Masa Depan

Penulis: Jacob Morgan

Review oleh: Elva Citra Sari

–– Jacob Morgan adalah seorang futuris, pembicara dan penulis The Future Leader: 9 Skills and Mindsets to Succeed in the Next Decade

Komentar

Postingan Populer

Tentang Olfactory dan Gustatory

Juma Lau, Tempat Wisata Asri Dekat dari Medan

Serunya Belajar Mind Mapping