Keluarga Ku, Tim Terhebat Ku

 Saatnya mengosongkan gelas kembali. Ibu Septi dan Pak Dodik memberikan kesempatan kepada kami untuk mengikuti tahap selanjutnya yakni training fasilitator advanced "A Home Team"

Pertemuan perdana bersama Ibu Septi yang dilakukan pada Hari Selasa, 23 November 2021, berisikan bagaimana kita bisa fokus membangun A Home Team bersama keluarga.

Bagi saya ini kesempatan menggali potensi dan kekuatan keluarga kami. Dan tentu saja hal itu tidak pernah membosankan. Bagi saya membangun kekuatan keluarga ini sangat penting. Selain karena amanah dari pencipta, membangun keluarga ini merupakan membangun support system terhadap seluruh aktivitas kami bersama. 

Pada awalnya kami diminta mengingat bagaimana keluarga saya saat ini. Bagaimana KITA saat ini?. Pertanyaan ini membawa saya kembali kepada memori memulai bersama suami menapaki satu per satu jalan membangun KELUARGA

Kami diminta untuk mengingat bagaimana istri dan suami berbagi peran, dari awal berumah tangga, sampai saat ini. Kami diminta untuk fokus pada kekuatan dan kehebatan suami dan istri. Untuk menggali kekuatan ini, kami diminta melakukan komunikasi produktif.

Saat melakukannya, kami diminta menuliskan apa yang kami lihat, rasakan sebagai pasangan, dan tetap fokus pada kekuatan dan kehebatan suami dan istri. Buat saya, hal tersebut sangat menyejukkan hati, saya belajar menuliskan satu per satu kelebihan suami, kehebatan yang dimiliki oleh suami tanpa TAPI

Kami diminta berlatih menilai kebaikan, mengingatnya bukan saja dalam hati namun diakui, disebutkan, dan dituliskan. Lalu, Ibu Septi bertanya kepada kami, apa yang dirasakan setelahnya?.

Saat membahasnya dalam kelompok, kami merasakan suasana hangat dalam hati, panas disekitar mata, dan tentu saja mulai terasa tetes air mata membasahi pipi saat diminta presentasi.

Saat ditanya, saya menjawab, setelah mengingat dan menuliskan kehebatan dan kebaikan suami yang telah saya terima, saya langsung rindu. Ingin bersamanya, meminta maaf jika banyak khilaf yang saya lakukan saat mendampinginya selama ini.


Belum reda haru yang saya rasakan, pertanyaan berikutnya sudah dimunculkan oleh Ibu Septi. 

"Apakah Anda yakin melahirkan ANAK HEBAT?"

Setelah tadi suami, saat berlatih, kami diminta mengingat semua kehebatan anak-anak kami. Saya mengingat pertama melahirkan anak sulung saya, Ghaza 14 tahun lalu. Seperti memutar ulang sebuah film, hanya kali ini semua isinya hanya saya, suami dan anak sulung. Mengingat detail perjalanan kami sebagai orang tua dan anak tercinta kami yang baru lahir, mendampinginya lalu terus mengingat semua kehebatan yang telah dilakukannya. Mengingat tahapan bertumbuhnya kami sebagai satu keluarga. sekali lagi mengingat kehebatan anak sulung kami, tanpa TAPI

Setelah menuliskan kehebatan anak saya, air mata semakin tidak terbendung. Saya banyak sekali alpa pendampingan pada sulung saya, perasaan itu terus mengisi benak saya. Namun, jika sulung saya tau hal ini, dia pasti akan bilang "Umi pasti mau minta maaf, setiap tahun pasti Umi minta maaf". Benar, saya memang begitu, walau Si Sulung sudah memberi maaf dan pemakluman, tapi tak surut air mata saya menetes membasahi pipi. 

Waktu mengingat kehebatan anak kedua saya gunakan untuk lebih menyemangati diri terbebas dari rasa haru. Namun, ternyata ga mudah, begitulah saya kalau mengingat banyak hal tentang anak-anak saya. Mungkin saat melihat saya terharu seperti ini, anak kedua kami akan bergegas mengambil sesuatu yang bisa menenangkan saya. Hilmi memang memiliki karakter empati yang tinggi. Si lembut hati kami ini akan mendampingi saya, walau hanya diam saja dan akan menyentuh saya.

Semua itu gambaran film anak-anak saya. saya sangat terharu saat melakukan sesi ini, walau suami dan anak-anak saya tidak di depan mata saya saat ini.

Jadi jika ditanya, apakah saya yakin melahirkan ANAK-ANAK HEBAT?, ya saya yakin, saya akan berjuang untuk mendukung anak-anak menjadi anak HEBAT saya, di mata penciptanya dan kami orang tuanya dan di tengah masyarakat.

Dan, saat saya mengajak keluarga saya membicarakan ringan hal diatas justru, haru malah lebih terasa. Kami melakukan ngobrol tersebut sambil merencanakan kegiatan seharian, saling menemani kegiatan sebagai satu keluarga. Kami semakin terharu, lebih saling menghargai, saling menjaga. Sepanjang jalan sering berpegangan tangan, tersenyum dan tertawa. Saya berpikir biarlah hari ini kami lewati seperti dengan melankolis sejenak, mesra itu penting, bukan saja pada pasangan kita namun juga anak-anak.

Kembali pada sesi training, "Apakah indikator SUKSES keluarga, Anda?". Pertanyaan ini melanjutkan sesi haru kepada sesi semangat membangun keluarga kami masing-masing. Ibu mengingatkan saat membuat indikator, buatlah indikator yang gampang terlihat oleh mata, jelas perubahannya sehingga benar-benar bisa terukur oleh keluarga, termasuk anak-anak.

Saya sudah membuatkan catatan tentang hal ini. Namun selanjutnya saya bertanya dan berdiskusi dengan keluarga. BAITI JANNATI adalah tujuan kami. Maka indikator nya harus kami sepakati apa saja, mengukurnya bagaimana.


Saya sempat singgah untuk melihat Indikator keberhasilan ibu profesional, lalu saya melihat apa yang telah kami buat sampai saat ini bersama keluarga. 



Komentar

Postingan Populer

Juma Lau, Tempat Wisata Asri Dekat dari Medan

Tentang Olfactory dan Gustatory

Serunya Belajar Mind Mapping