Konferensi Ibu Pembaharu (KIP), literasi digital dari, oleh dan untuk perempuan

 

Konferensi Ibu Pembaharu (KIP) telah dilaksanakan oleh Ibu Profesional dari tanggal 17 - 20 Desember 2021 lalu memberikan banyak manfaat  bagi saya. Konferensi dengan panitia penyelenggara Institut Ibu Profesional ini, mengingatkan saya kembali pada tujuan dilaksanakannya Konferensi Ibu Pembaharu ini, yakni :

  1. Mempertemukan Ibu Pembaharu dari dalam dan luar negeri untuk melakukan refleksi, kolaborasi, berbagi solusi dalam menjalankan perannya sebagai perempuan, ibu dan istri.
  2. Sebagai media publikasi untuk meningkatkan jumlah perempuan berpendidikan dan berkualitas yang akan tumbuh dan berkembang, berdasarkan potensi yang dimilikinya sebagai Ibu Pembaharu baik yang bekerja di ranah domestik maupun publik.
  3. Mendorong dilaksanakannya pertemuan para Ibu Pembaharu tingkat internasional secara berkala.
  4. Menginisiasi terwujudnya Universitas yang fokus pada bidang Pendidikan Ibu dan Keluarga yang pertama di Indonesia.
Sejak tahun 2011, Ibu Profesional  telah secara konsisten membangun lingkungan dimana semua perempuan mampu membawa perubahan pada diri, keluarga, dan lingkungannya. Sehingga Ibu Profesional mampu melahirkan ribuan Ibu Pembaharu yang siap berbagi solusi. Menginspirasi perempuan di seluruh dunia untuk turut menjadi Ibu Pembaharu dengan memulai aksi dari rumah.

Untuk menjadi bagian dari solusi dunia. Ibu Profesional juga turut ambil bagian
dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkepanjangan, atau biasa dikenal
dengan istilah Sustainable Development Goals (SDGs). Hal ini lah yang menjadi isu utama Konferensi Ibu Pembaharu yang dilaksanakan untuk memperingati 1 dekade Ibu Profesional.

Konferensi Ibu Pembaharu dilakukan dengan prinsip: Leave No One Behind atau Tidak Meninggalkan Satu Orang pun. Tujuan ini terwujud pula dalam Gerakan Ibu Inklusif yang diinisiasi oleh Ibu Profesional. Ibu Profesional ingin mengajak IPers untuk bisa berdampak dan bermanfaat untuk perempuan Indonesia lainnya, dan memastikan bahwa tidak ada perempuan yang luput atau terlewatkan untuk maju dan menjadi berdaya. Memperbanyak penggunaan teknologi terapan, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, untuk mendukung pemberdayaan perempuan.Perempuan berdaya melalui teknologi informasi dan teknologi, serta berperan aktif dalam pendidikan/pengasuhan anak.

"It takes an ecosystem to raise a changemaker"

Saya khusus menggaris bawahi tentang memperbanyak penggunaan teknologi terapan khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Konferensi Ibu Pembaharu memberikan manfaat peningkatan literasi digital yang dilakukan dari, oleh dan untuk perempuan. Hal ini adalah kesan dan manfaat yang saya terima dengan mengikuti Konferensi sejak tanggal 17 - 22 Desember 2021.

Literasi Digital.

Dari buku Peran Literasi Digital di Masa Pandemik (2021) karya Devri Suherdi, literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet dan lain sebagainya. Kecakapan pengguna dalam literasi digital mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat serta tepat sesuai kegunaannya.

Dari Manfaat Literasi Digital Bagi Masyarakat dan Sektor Pendidikan Pada Saat Pandemi Covid-19 (2020) karya Eti Sumiati dan Wijonarko, literasi digital telah membawa banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat. Manfaat tersebut di antaranya: Kegiatan mencari dan memahami informasi dapat menambah wawasan individu. Meningkatkan kemampuan individu untuk lebih kritis dalam berpikir serta memahami informasi. Menambah penguasaan ‘kosa kata’ individu, dari berbagai informasi yang dibaca. Meningkatkan kemampuan verbal individu. Literasi digital dapat meningkatkan daya fokus serta konsentrasi individu. Menambah kemampuan individu dalam membaca, merangkai kalimat serta menulis informasi.

Prinsip dasar literasi digital menurut Yudha Pradana dalam Atribusi Kewargaan Digital dalam Literasi Digital (2018), literasi digital memiliki empat prinsip dasar, yaitu: 
  1. Pemahaman Artinya masyarakat memiliki kemampuan untuk memahami informasi yang diberikan media, baik secara implisit atau pun eksplisit. 
  2. Saling ketergantungan Artinya antara media yang satu dengan lainnya saling bergantung dan berhubungan. Media yang ada harus saling berdampingan serta melengkapi antara satu sama lain. 
  3. Faktor sosial Artinya media saling berbagi pesan atau informasi kepada masyarakat. Karena keberhasilan jangka panjang media ditentukan oleh pembagi serta penerima informasi. 
  4. Kurasi Artinya masyarakat memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami.
Konferensi 


Komentar

Postingan Populer

Juma Lau, Tempat Wisata Asri Dekat dari Medan

Tentang Olfactory dan Gustatory

Let's Read, Menumbuhkan minat baca dengan menyenangkan.