Mindset dan Menumbuhkan Percaya Diri (A Home Team Training)


 Senin, 15 Maret 2021 menjadi awal pertemuan saya bersama teman-teman lainnya dalam kegiatan "A" Home Team Training. Selama 1 bulan kami akan belajar bersama menjadi fasilitator yang nantinya diharapkan mampu mengajak orang-orang yang berada di sekeliling kami untuk melakukan kebaikan seperti apa yang kami rencanakan dan latih dalam kegiatan ini.

Saya lihat teman-teman saya dalam kegiatan ini masih didominasi oleh teman-teman dari Ibu Profesional, hal tersebut wajar saja karena memang kegiatan ini diinisiasi oleh founding mother Ibu Profesional yakni Ibu Septi Peni Wulandani dan tentu saja inisiator Ibu Profesional Bapak Dodik Mariyanto.

Saat ingin mendaftarkan diri dalam kegiatan ini, saya berdiskusi dengan suami, apa yang menjadi latar belakang saya ikut terlibat kegiatan ini dan apa yang saya harapkan. Apakah hanya karena melihat orang yang berada di belakang layar kegiatan ini saja, atau ada hal lain yang lebih mendasari saya ingin mengikuti kegiatan ini.

Setelah merenung, saya berpikir saya membutuhkan kegiatan ini sebagai latihan diri, latihan menjadi apa?, saya mengingat lamat-lamat, apa kebutuhan saya, mau menjadi apa saat ini, ternyata saya mau menjadi diri saya sendiri. Saya senang bisa bekerja sama dengan berbagai pihak dan menjadi fasilitator sebuah tim adalah keinginan saya yang memang sudah saya geluti. Namun, saat ini saya ingin menambah kapasitas keilmuan dan skill saya sesuai perkembangan zaman. Sepertinya latihan-latihan seperti ini sudah lama tidak saya lakukan. Kami memiliki dua anak menjelang aqil balig maka kegiatan kami semakin beragam dan anak-anak sudah mulai terlibat dengan lingkungan yang lebih besar tidak hanya keluarga dan sekolah. Saya tidak akan memulainya jauh-jauh, saya akan memulainya di lingkungan sekitar aktivitas kami.

Dari penjelasan Ibu Septi A Home Team Training, akan memberikan lingkungan belajar untuk mendorong dan mendukung perempuan agar bisa membangun team yang baik mulai dari keluarganya. Dengan memiliki team para perempuan bisa menciptakan dunia yang lebih bahagia. Timeline apa saja yang akan kami lakukan di training ini bisa dilihat di Timeline A home team training.

Kata-kata "dengan memiliki team, para perempuan bisa menciptakan dunia yang lebih bahagia", menjadi kalimat yang saya catat secara khusus, ini lah yang menjadi tanggung jawab kolektif yang akan saya bangun bersama team. Terbayangkan biasanya perempuan katanya suka sekali baperan, emosional, dan label negatif yang terkadang disematkan pada perempuan jika berada dalam kelompok atau membangun team. Tentu saja jika demikian kondisi yang terjadi maka bukan dunia yang lebih bahagia yang akan tercipta.

Selain saling memperkenalkan diri, kami diminta untuk mengutarakan adakah sebuah momen yang membuat saya sangat percaya diri sebagai seorang perempuan/ibu/istri?.  Saya teringat momentum saya sekolah, suatu hari Emak saya bilang kata-kata ini, saya bisa kalau saya mencoba. Mulai di sekolah dasar memang saya mencoba banyak kegiatan yang saya ingin ikuti, saya coba satu-persatu kegiatan. setelah menemukan, saya senang mengikuti kegiatan A, tidak suka B, saya mau melatih kegiatan C saya mau juara, saya mau menaikkan skill dari bisa menjadi biasa dan tentu saja berprestasi. Hal ini yang senantiasa mendorong saya untuk percaya diri. Saya menimati sedih dikalahkan, tapi hal tersebut tidak membuat saya patah arang. 

Pada saat SMU seharusnya saya di barisan  Paskibra yang akan mengibarkan bendera di tingkat provinsi, saat itu saya bersemangat sekali, saya sudah dilatih para senior saya di sekolah, sudah mempersiapkan diri, keluarga saya mendukung, tinggal selangkah lagi saya akan menggapai yang saya inginkan, tetapi saya dipanggil oleh pelatih yang saat itu berasal sari aparat keamanan. Nama saya dicoret, saya tanyakan apa alasannya, kata petugas tersebut kemampuan saya tidak mendukung, seperti disambar petir saya mendengarkan alasannya. Saya melawan, saya tidak terima alasannya, sangat tidak terima, sama siap untuk beradu kemampuan dengan anak perempuan yang akan menggantikan saya, petugas tersebut diam. Saya sampaikan, "Jika Bapak tidak punya alasan yang lebih baik jangan menganggap saya sebelah mata dengan memilih alasan seperti itu".

Saya sampaikan, jika nama saya dicoret karena saya tidak punya dukungan pejabat saya terima, dan seperti itu lah perlakukan saat itu. Saya tidak merasa kalah. Saya menangis dengan kepala tegak. Saya mulai mengenali diri saya, dan itu langkah awal saya memupuk rasa percaya diri.

Jika ditanyakan kenapa saya membuat keputusan tersebut?, saat itu saya memang memahami tidak semua kemampuan akan diapresiasi dengan adil. Kesuksesan bisa saja diraih dengan berbagai cara, dan saya memilih cara yang saya yakini menjadi value saya. Value ini juga yang terus saya pupuk bahwa kenyataan dan ujian hidup itu bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dalam bentuk berbagai hal, walau pun saya sudah berlatih dan bersiap. Karena itu juga agama menyeru kita untuk tawakal kepada Allah setelah berusaha secara maksimal. Pedih, sakit saya terima sebagai  bagian dari pilihan saya bersikap. 

Pengalaman itu mempengaruhi saya sampai saat ini. Saat itu orang tua saya yang mendampingi saya marah pastinya, tapi saya pikir marah terhadap apa, begitu lah sebuah sistem yang sedang berjalan. Anak perempuan yang menggantikan saya juga mungkin tidak menyangka keluarganya akan mengupayakan dia masuk, saya tidak pernah marah pada dia, pada petugas yang sudah melecehkan saya dan mencari alasan yang mengada-ada. Saya sudah melawan dengan sebaik-baiknya kata. 

Saat ini pengalaman itu yang terus saya pelajari, menyampaikan dengan asertif apa yang tidak saya sukai, tidak saya setujui,bahkan melawan sistem yang tidak adil bagi perempuan, namun saya harus mempersiapkan diri jika orang tidak suka dengan saya karena hal tersebut. 

Saya jadi ingat kata-kata bijak Dumbledore pada Harry Potter; the truth is a beautiful and terrible thing, and should therefore be treated with great coution.

Ga semua pernyataan jujur itu membahagiakan, terkadang bisa menyakiti orang lain, maka kejujuran harus dilakukan demgan kehati-hatian. 

Namun, setelah lenjalani berbagai hal, ada hal lain yang bisa dilakukan selain melawan, tentu Emak saya tidak suka juga anaknya dimana-mana melawan hahaha. Walaupun judul awalnya melawan ketidakadilan, perlakuan tidak pantas dan lainnya, ada cara lain bagi seorang anak perempuan bersikap lebih baik, dan sekarang saya Istri dan Ibu yang akan memberikan contoh kepada anak-anak saya dalam berperilaku. Pemberdayaan lingkungan disekitar kita, itu salah satu yang bisa saya lakukan.

Mengenal Diri untuk Menumbuhkan Percaya Diri

Salah satu cara mengenali diri yang dilakukan saat kami berada dalam kegiatan ini adalah dengan menemukan 3 Fakta tentang diri kami masing-masing. Saya langsung berpikir, Ga usah semua juga dikumpulin faktanya, va.. kalau kepanjangan, nanti malah jadi cerita bersambung hehehe..
Nah, 3 Fakta tentang saya;


Saya teringat buku mindset yang saya baca. Buku karya Carol S. Dweck, Ph.D ini sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Buku ini menekankan bahwa semua yang kita lakukan berasal dari mindset, cara berpikir kita dan apakah hal tersebut menjadikan kita yakin atau tidak. Buku ini menurut Bill Gates juga menjelaskan bagaimana keyakinan atas kemampuan yang kita miliki sangat berpengaruh pada cara kita belajar dan menentukan pilihan dalam kehidupan.

Menurut Rhenald Kasali, dengan membaca buku mindset tersebut, kita bisa memperbaharui cara mendidik dan membesarkan anak-anak kita. Karena, ada faktor lain selain prestasi akademik yang harus dibangun untuk melahirkan kehebatan.


Lembar demi lembar buku ini saya baca, saya tertarik dengan ulasan beberapa tokoh tentang buku ini. Dengan membaca buku ini saya mengambil hikmah bahwa proses mengenali diri akan membawa kepada proses berpikir, dan langkah berpikir utama adalah memahami kekuatan dan kelemahan diri, lalu dengan pengetahuan terhadap diri tersebut keyakinan apa yang selanjutnya akan terbentuk. Buku ini mengajak saya berpikir mengenai mindset yang saya miliki selama ini, bagaimana pandangan tersebut menjadi keyakinan saya, mengarahkan apa yang saya lakukan dalam kehidupan saya. 

Pernahkah kita membayangkan bahwa didalam kehidupan ini sebuah kepercayaan sederhana bisa memiliki kekuatan yang dapat mengubah psikologi (pikiran, kesadaran, perasaan, sikap) kita, lalu akhirnya mengubah hidup kita?. Hal itu ternyata tergantung pada mindset yang kita miliki.

Buku ini menjelaskan bahwa dalam kehidupan ada 2 jenis mindset yang digunakan, yakni fixed mindset (mindset tetap) dan growth mindset (mindset bertumbuh). Melatih anak memiliki keyakinan setiap anak adalah cerdas dan hanya fokus pada kecerdasan itu (hasil) ternyata termasuk kedalam fixed mindset. Dan tentunya kita tidak mau mendidik anak bahkan mendidik diri sendiri hanya fokus pada kecerdasan. Buku ini mengingatkan untuk memiliki semangat bertumbuh (growth mindset), semangat bertumbuh ini juga disertai dengan pengembangan diri dan tetap melakukannya, sekalipun (atau khususnya) ketika keadaan tidak berjalan dengan baik. Mindset ini lah yang akan membuat orang-orang semakin berkembang walau pun berada pada masa-masa paling menantang dalam hidup.

Kisah hidup salah satu pemain basket yang saya sukai juga ada dalam buku ini. Kisah sukses Michael Jordan yang terus berlatih walau dianggap tidak memiliki bakat alami bermain basket menjadi inspirasi bagi saya. Jordan tetap berlatih walau beberapa universitas menolaknya, pelatih memecatnya. Dia tidak meninggalkan basket yang sangat dicintainya. Jordan menyakini bahwa kesuksesan berawal dari pikiran. Ketangguhan mental dan hati jauh lebih kuat dari pada keunggulan-keunggulan fisik yang dia miliki.

Growth mindset memungkinkan seseorang untuk mencintai apa yang dia lakukan, dan tetap akan mencintainya meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Semangat dan kecintaan inilah yang akan membawa seseorang pada puncak sukses, karena kepercayaan diri yang dibangun bukan berdasarkan hasil dari sebuah upaya berhasil atau tidak saja.

Hal menarik membaca buku tersebut bagi saya adalah selain mindset yang memiliki dampak pada kepercayaan diri seseorang, dalam buku ini disinggung banyak sekali mitos tentang kemampuan dan pencapaian dan kaitannya tentang pribadi penyendiri yang cemerlang dan secara tiba-tiba menghasilkan karya-karya hebat dan menakjubkan dunia. 

Padahal, karya terbesar Darwin, The Origin of Species, membutuhkan kerja sama kelompok di bidang tersebut yang dilakukan selama bertahun-tahun. Proses menemukan bola lampu yang dilakukan oleh Thomas Alfa Edison tidak dilakukan seorang diri, namun dilakukan bersama tiga puluh asisten, termasuk para ilmuwan terlatih yang bekerja di laboratorium siang dan malam.

Saya jadi teringat apresiasi MURI yang saya terima bersama 366 pembicara lainnya di Hexagon City Virtual Conference. Rekor Kelas Pembelajaran Virtual dengan pembicara terbanyak tidak pernah ada jika hanya saya yang berusaha, walaupun saya mampu membayar donasinya. Rekor tersebut kami terima karena kecintaan berbagi dari 367 perempuan di kelas Bunda Produktif Batch 1. 

Karya hebat memerlukan kelompok yang kuat yang mencintai apa yang dilakukan secara bersama-sama. Bukan sendiri dan menyendiri.

Komentar

  1. Keren Elva, semangat belajar terus yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ibu atas ilmu dan apresiasi nya..senang belajar bersama ibu, bapak dan teman-teman..

      Hapus
    2. Dikomen Langsung sama Bu Septi, keren kak 👏 memang growth mindset ini penting banget huhu agar gak kejebak pada kebenaran diri sendiri tanpa ada dasarnya

      Hapus
  2. Balasan
    1. Masyaa Allah.. Tabarakallah..
      Terima kasih ya..

      Hapus
  3. Mba Elva keren ya... Suka belajar..
    Kalo aku... hmmm...
    gimana ya.. suka mager kwkwkwkw
    Semangat ya mba Elva...

    BalasHapus
  4. MasyaAllah Tabarakallah, keren kak Elva.. sudah dari zaman sekolahan tau cara melawan ketidakadilan.
    Saya teringat saat di kampus dulu.
    Saat petugas di kantor jurusan bilang bahwa uang kuliah saya tidak terdebet dan saya harus ambil cuti karena itu. Sementara itu, kami baru menjalani ujian mid semester. Gilaaaak aja kalo kesalahan bank awak yang harus kehilangan satu semester.
    Gak mau tinggal diam, awak pun langsung menyadari kalo biasanya petugas biasa agak lebih songong dibanding petinggi di kampus. (Beberapa hal ini ada benarnya 🤣).
    Jadi awak tinggal hubungi bank bersangkutan, ngomong kalo bank tidak mendebet uang kuliah saya, saya gak punya slip setoran resmi hingga harus ulang semester depan. Tapiiii petugas bank dengan baiknya bilang "oooh..gagal debet.. gampang.."

    Langung dia kasih slip pembayaran. Dan awak pun terbebas dari dikte petugas kampus.
    Nah semudah itu, bisa dibuat rumit sama mereka.

    BalasHapus
  5. Wow, saya suka banget nih dengan kata powerfull yang satu ini. "Kesuksesan berasal dari pikiran." Mungkin iniah yang harus bisa diubah dlam pemikiran saya. Bahkan saya sendiri pun pernah merasa enggak percaya diri terhadap kemampuan yang saya miliki.

    BalasHapus
  6. MasyaAllah, tabarakallah kak elva. Baca ini jadi malu, kelas bunsay aja aku malah ngambil cuti. Padahal bisa banyak belajar dari kelas-kelas yanga da di IIP ini.

    BalasHapus
  7. Mainset inilah sering buat pede/ ga pede. Biasanya karena jam terbang kurang hehe
    Ada kelasnya juga ya kak, jd pengen jugak join hehe

    BalasHapus
  8. A Home Team ini terpaksa saya lewatkan karena suami gak izin, hehe... prioritas kami buat anak2 dl, maju terus pantang mundur, Elva, semoga sukses learning community nya terutama utk kaum ibu yang tidak terjangkau jaringan internet tetapi ingin tercerahkan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Juma Lau, Tempat Wisata Asri Dekat dari Medan

Tentang Olfactory dan Gustatory

Let's Read, Menumbuhkan minat baca dengan menyenangkan.