Kunjungan ke Benteng Vredeburg, sebagai upaya melestarikan cagar budaya Indonesia.




Benteng Vredeburg, Cagar budaya Indonesia.

Pada bulan Agustus 2019 lalu, kami berkunjung ke Benteng Vredeburg, Yogyakarta.  Benteng Vredeburg dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I sekitar tahun 1765. Benteng yang pada mulanya diberi nama Benteng Rustenburg atau Benteng Peristirahatan ini, terletak di depan Gedung Agung dan Kesultanan Yogyakarta. Benteng Vredeburg sendiri memiliki arti Benteng Perdamaian. Di sejumlah bangunan Benteng Vredeburg  terdapat diorama mengenai sejarah Indonesia. Sekarang, benteng ini menjadi salah satu museum yang ada di Yogyakarta. Museum yang terletak di pusat kota Yogyakarta ini sangat mudah untuk dikunjungi. Museum ini beralamat di Jl. Margo Mulyo No. 6, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta

Jika Anda ingin berkunjung ke Benteng Vredeburg, silahkan klik lokasi benteng vredeburg yogyakarta .

Hasil Telusur
Anak-anak saya menyukai museum, salah satu tempat yang akan kami kunjungi saat ke luar kota atau ke luar negeri adalah museum. Dari museum, kami dapat melihat dan mempelajari sejarah tentang suatu kota atau negara dan peradabannya. Pada umumnya, museum juga merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang dilestarikan oleh pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat di suatu negara. Benteng Vredeburg ini merupakan salah satu cagar budaya yang dimiliki Indonesia.

Menurut UU no. 11 tahun 2010, cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Ketika berkunjung ke Benteng Vredeburg, kami merasakan bahwa museum ini sangat memudahkan pengunjung yang datang. Penjelasan mengenai museum secara jelas  dapat kita temukan di berbagai papan petunjuk museum. Kehadiran Mas Pandu, patung lelaki dengan pakaian adat Jawa merupakan cara unik dalam memandu pengunjung agar tidak tersesat. 




Harga Tiket masuk ke museum ini sangat murah baik bagi pengunjung domestik maupun pengunjung yang berasal dari mancanegara. Harga tiket bagi pengunjung domestik adalah Rp 3.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak. Tiketnya masuknya juga sangat membantu karena dilengkapi dengan peta mini yang bisa dilihat oleh setiap pengunjung.







Benteng Vredeburg terdiri dari 4 ruang Diorama dan 1 ruang Audio Visual. Sebagai bangunan cagar budaya, museum ini dilengkapi dengan berbagai benda bersejarah. Benteng Vredeburg menyimpan berbagai  foto dan berbagai dokumentasi yang bisa kita saksikan mulai dari ruang Audio Visual sampai Ruang diorama 4. Ruang Audio Visual ini berbentuk bioskop mini, tempat memutar film pendek tentang Yogyakarta sejak zaman Sultan Hamengku Buwono I sampai zaman penjajahan.

Memasuki ruang Audio Visual, kami bisa mempelajari sejarah secara atraktif. Kami disambut dan dihantarkan oleh anak-anak SMK yang saat itu sedang magang di museum. Menurut saya, ini adalah salah satu cara yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk mengajak anak-anak remaja terlibat aktif mengenal sejarah bangsa.






Pengunjung bisa melihat benda bersejarah lainnya yang disimpan di Benteng Vredeburg di ruang diorama 1 sampai 4. Salah satu ruang diorama berisikan benda-benda yang dimiliki dan digunakan oleh Jendral Sudirman seperti replika baju, peralatan perang yang akan menggambarkan kepada kita bagaimana beliau berjuang dengan taktik perang gerilya sampai dilantiknya beliau sebagai Panglima Besar TNI oleh Presiden Sukarno.





Setelah melihat dan membaca keterangan yang terdapat di ruang diorama di Benteng Vredeburg, pengunjung bisa  mengingat kembali berbagai peristiwa sejarah yang telah terjadi baik di masa kesultanan atau raja-raja Jawa, masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, masa kemerdekaan bahkan sampai dengan saat ini. Anak-anak saya senang membaca penjelasan yang ada di Benteng Vredeburg. Anak saya dengan sabar dan menikmati membaca keterangan di setiap bagian museum. Museum ini juga dilengkapi dengan sarana digital, tentu saja ini menarik bagi anak-anak saya.






Kondisi museum ini  baik. Pemerintah Yogyakarta melakukan perawatan museum dengan melakukan pemugaran dan pemeliharaan  pada bangunan, benda dan fasilitas tambahan yang ada di dalam kawasan museum. Fasilitas tambahan yang terdapat di museum ini antara lain adalah fasilitas bermain untuk anak-anak, kafetaria dengan nuansa Hindia Belanda, dan toilet yang bersih.


Selanjutnya informasi tentang Benteng Vredeburg sebagai cagar budaya Indonesia bisa langsung Anda klik Disini 

Melestarikan cagar budaya, menapaki sejarah bangsa.
Awalnya kami menjadwalkan menghabiskan 1 jam untuk menikmati museum yang sarat sejarah ini, dan ternyata "bablas". Moment ini benar-benar waktu terbaik mempelajari sejarah bangsa. Sebagai penyuka sejarah tentu berdiskusi setelah mengunjungi sebuah  tempat bersejarah menjadikan diskusi yang dilakukan, sarat makna. Begitu pun yang kami  lakukan bersama anak-anak. Museum ini  dilengkapi dengan sarana digital yang akan memudahkan kita untuk merasakan dan terbawa ke dalam suasana saat peristiwa sejarah yang kita baca, terjadi. Suasana dramatis yang akan menimbulkan sensasi kagum dan bangga menjadi anak bangsa. Kita akan merasakan patriotisme yang dilakukan oleh para pejuang. Rasa menghargai jasa para pahlawan akan muncul. Kita menjadi mengerti bahwa mereka telah berkorban waktu, tenaga, harta bahkan nyawa untuk bangsa Indonesia. 

Benteng Vredeburg memiliki berbagai spot foto yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung yang menyukai photografi. Saat kami mengunjungi benteng ini banyak remaja yang berlatih membidik objek foto dengan serius. Mungkin itulah salah satu cara yang digunakan oleh anak muda masa kini mengenal sejarah bangsanya, lewat photografi.




Saat mengeksplorasi benteng Vredeburg, anak-anak menyampaikan ini salah satu museum terbaik yang pernah mereka kunjungi. Terkhusus dengan si sulung, saya banyak berdiskusi tentang pengalamannya  mengunjungi museum satu ke museum lainnya.

Menggali sejarah dengan menapaki cagar budaya yang ada di negeri ini adalah cara kami untuk melestarikan sejarah bangsa. Pada zaman saya sekolah dahulu, anak-anak sekolah terbiasa mempelajari sejarah dengan mencatat lalu menghafal apa yang telah dituliskan di buku catatan. Anak-anak disibukkan dengan mengingat nama tempat, tahun suatu peristiwa sejarah yang akan keluar saat ujian nantinya.

Sebagai orang tua, saya menyadari cara tersebut kurang menarik untuk saat ini. Anak-anak saya adalah generasi digital yang membutuhkan pengetahuan yang bisa diperoleh dengan lebih atraktif. Saat ini anak-anak belajar bukan saja melalui buku namun juga melalui dunia maya. Sebagai orang tua kami berupaya mengimbangi anak dengan pengalaman langsung  melihat berbagai bangunan dan benda bersejarah yang mungkin saja termasuk kedalam bangunan dan benda cagar budaya.

Saya teringat Ms Beadle dalam serial Little House on the Prairie, saat mengajari murid-muridnya, beliau berkata bahwa "salah satu cara belajar terbaik mengetahui suatu daerah adalah dengan mendatangi langsung daerah tersebut dan menuliskan kembali apa yang kamu temui di sana." 

Ada beberapa manfaat bagi anak-anak saat melakukan kunjungan ke sebuah museum, antara lain :
  1. Menambah pengetahuan dan informasi
  2. Sebagai referensi visual
  3. Mendapat sudut pandang waktu yang jelas dan luas
  4. Memberikan nuansa yang berbeda
  5. Menimbulkan rasa ingin tahu dan memancing imajinasi anak
  6. Interaksi dengan banyak dan beragam orang
  7. Membantu menemukan minat anak
  8. Meningkatkan rasa nasionalisme dan kebangsaan
Delapan manfaat kunjungan ke museum bagi anak-anak, bisa anda dibaca lebih lanjut di Nirwan, S.Pd

Anak-anak bercerita bahwa saat di sekolah gurunya bertanya tempat apa saja yang mereka kunjungi di Yogyakarta. Guru Hilmi misalnya, memancing Hilmi untuk bercerita apa yang dia lihat di Benteng Vredeburg,. Bu Desi meminta Hilmi menyampaikan kembali apa yang telah dipelajari saat melakukan kunjungan ke Benteng Vredeburg. Bu Desi bercerita bahwa beliau juga sudah pernah mengunjungi museum yang sama saat mengunjungi Yogyakarta. Cara mengajar yang dilakukan guru di sekolah Hilmi ini, menurut saya akan menjadi bagian proses belajar yang akan diingat oleh Hilmi dengan bahagia.

Hal diatas juga merupakan contoh bagaimana kami, orang tua berupaya menghubungkan pelajaran sejarah dan geografi dengan melakukan sebuah kunjungan ke sebuah tempat. 

Saat melakukan kunjungan ke Benteng Vredeburg,  kami merasakan secara langsung pentingnya merawat dan melestarikan cagar budaya. Kondisi cagar budaya yang rapuh, terkadang tidak dapat diperbaharui, terbatas jumlahnya, merupakan alasan utama bagi kami untuk ikut serta merawat dan melestarikan cagar budaya. Tentu saja jika cagar budaya tidak dirawat pasti akan musnah.

Masyarakat, berserta pemerintah dan akademisi adalah kesatuan stakeholder yang harus bekerja sama dalam melestarikan cagar budaya Indonesia. Keterlibatan masyarakat bisa dilakukan dengan melakukan kunjungan ke berbagai cagar budaya yang ada di Indonesia. Dengan izin pemerintah, masyarakat juga bisa turut serta dalam upaya pelestarian cagar budaya dengan lingkup perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya.

Bagaimana upaya masyarakat terlibat dalam pelestarian cagar budaya juga bisa Anda baca di Disini

Lomba yang dilaksanakan oleh  Kemendikbud X IIDN ini juga salah satu cara bagi para ibu  dan orang tua pada umumnya untuk peduli dan memberi kontribusi langsung dalam melestarikan cagar budaya dan sejarah yang terkandung didalamnya. Melalui tulisan para ibu dan orang tua, kunjungan ke berbagai cagar budaya dapat dituliskan dan dipublikasikan.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer




Ada banyak cara ikut melakukan pelestarian cagar budaya yang ada di Indonesia, cara yang saya gunakan adalah dengan mengikuti Kompetisi Blog Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah ini.
Bagaimana dengan Kamu?.

Komentar

Postingan Populer

Juma Lau, Tempat Wisata Asri Dekat dari Medan

Let's Read, Menumbuhkan minat baca dengan menyenangkan.

Tentang Olfactory dan Gustatory