Mengasah Passion


Apa yang terbayang saat berbicara tentang Passion?. Hal yang pertama saya ingat adalah antusiasme, kesungguhan dan tidak kenal menyerah dalam melakukan sesuatu. Passion adalah kosakata dalam Bahasa Inggris yang bermakna gairah. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia menurut KBBI, gairah berarti keinginan atau hasrat atau yang kuat. Saya juga teringat ilmu dan metode tentang Talents Mapping, dalam ilmu tersebut juga bicara bagaimana mengidentifikasi talents dan passion. 

Beberapa saat lalu, kelas Bunda Produktif di Institut Ibu Profesional memasuki Zona Passion. Kami para Hexagonia diminta untuk mengaktivasi apa yang menjadi passion kami secara personal. Setelah itu kami juga diminta mendiskusikan Project passion yang akan kami pilih, dan nantinya akan menjadi Passion to Nation yang kami persembahkan bagi Hexagon city dan dunia nyata.

Mengaktivasi passion

Setelah mempelajari apa yang menjadi minat dan bakat saya dengan menggunakan metode Talents Mapping. Saat ini kami diminta mengaktivasi passion. saya pikir kedua hal itu sangat erat kaitannya. Hexagon City yang selama 6 bulan ini akan menjadi dunia kami dibuat dengan integritas yang harus diterapkan oleh semua warganya, termasuk dalam urusan passion. Kami tergabung didalam 94 Co-housing. Co-housing merupakan tempat kami belajar, tumbuh, berkreasi, membuat project bersama sebagaimana layaknya komplek perumahan di dunia nyata. Aktivasi passion merupakan syarat utama untuk bisa hidup di Hexagon City. 

Untuk mengaktivasi passion, kami diminta memahami tiga hal, yakni;

  1. Passion adalah perasaan yang sangat kuat yang kami rasakan saat melakukan sesuatu. Kami diminta untuk berkomitmen dan konsisten melakukan apa yang sudah kami pilih dan rencanaka dalam jangka waktu 6 bulan. 
  2. Passion seringkali menjadi akar dari berbagai hal sebelum seseorang melakukan sesuatu. Saat memberikan materi, founding mother kami, Ibu Septi Peni Wulandani, juga mengingatkan bahwa passion tidak selalu sama dengan hobi. Misalkan saja hobi seseorang adalah masak, tetapi setelah menjalani hobi tersebut orang tersebut merasa tidak passionate, tidak bergairah.
  3. Berbeda dengan hobi, dengan adanya passion seseorang seringkali terdorong berinisiatif melakukan sesuatu walaupun tanpa diminta atau tanpa disuruh. Seseorang yang memiliki passion terhadap sesuatu hal, maka orang tersebut akan dengan perasaan bergairah menjalankan passionnya. Ia akan belajar dengan sungguh-sungguh tentang prosesnya, dan melakukan improvement dari hari ke hari. 
Maka, saat kembali ke co-housing, kami masing-masing melakukan refleksi diri apa yang kami ingin aktivasi dari passion kami masing-masing?. Saya menjadikan bekal dari Talents Mapping saya saat membahas passion, saya mengaitkan personal branding saya dengan apa yang membuat saya terus bergairah, berinisiatif dan terus belajar.


Sebagai bekal tambahan, saya membuat catatan khusus dari penyampaian Ibu Septi Peni Wulandani tentang pembagian passion. Tujuannya agar kami lebih aktif dan produktif, saat berupaya menemukan passion yang cocok dan menumbuhkan nya sesuai dengan perkembangan diri kami masing-masing.

Pembagian passion yang dimaksud adalah :

  1. Passion for KnowledgePada tahap ini kami perlu mempelajari suatu keahlian dengan pengetahuan. Kami ditantang untuk menggali berbagai ilmu, membaca literatur, mengikuti pelatihan yang akan mendorong kami lebih baik dari hari ke hari.
  2. Passion for Business. Kami dianjurkan untuk menjadi mandiri dan tidak menjadi beban orang lain terkhusus secara finansial. Hal ini menjadi tantangan untuk saya, saya sendiri kurang termotivasi saat ini untuk bisa menghasilkan financial seperti dahulu saat saya bekerja di ranah publik, saat ini saya asyik mengelola keuangan keluarga. Maka dalam hal ini saya pikir saya perlu mencari dorongan eksternal yang bisa memberikan motovasi saya.
  3. Passion for Service. Manusia adalah makhluk sosial yang terhubung dan melayani satu sama lain. Itu salah satu hal yang disampaikan kepada kami saat mendengarkan materi tentang passion. Aha! point 2 saya gabungkan saja ke point 3 ini.
  4. Passion for People. Pada tahap passion ini saya merasa semakin berbinar, saat ini saya ingin fokus memengaruhi orang lain, bekerja sama dengan orang lain. Saat ini saya sangat bergairah mempelajari bagaimana saya bisa membentuk, menjaga, dan mengembangkan hubungan dengan orang lain dan melakukan produktivitas dengan hubungan tersebut.

Pengembangan Passion.

Setelah mengetahui pembagian passion, hal yang sangat penting dilakukan adalah mengetahui sudah sampai pada tahap mana keberadaan seseorang dengan passion yang dimilikinya. Pengembangan passion antara lain :

  1. Fundamental Life Stage > Knowledge > muncul di usia 0-20 tahun. Kata kunci: mencari ilmu pengetahuan. 
  2. Forefront Life Stage > Business > muncul di usia 20-40 tahun. Kata kunci: mandiri, tidak bergantung pada orang lain, produktif, untuk diri sendiri. 
  3. Foster Life Stage > Service > muncul di usia 40 - 60 tahun. Kata kunci: mengembangkan sesuatu, mendorong orang, berbagi, melayani. 
  4. Final Life Stage > People > usia 60 tahun ke atas. Kata kunci: bermanfaat bagi banyak orang.
Saya mencoba mencari tahu lebih jauh konsep Citizen 4.0 yang dijelaskan Ibu Septi. Konsep Citizen 4.0 ini antara lain dibahas tuntas oleh pakar marketing Bapak Hermawan Kartajaya. Saya senang membaca buku-buku beliau. Ulasan beliau tentang Citizen 4.0 bisa dilihat di chanel youtube berikut.

Pembagian tahapan tersebut boleh disesuaikan dengan kondisi kita saat ini. Misal belum pernah passion for knowledge di usia 0-20 tahun, maka boleh memulainya saat ini. Tidak ada kata terlambat. Kita bisa memulai dari mana saja baik mulai dari passion for knowledge, passion for business, passion for service, atau passion for people terlebih dahulu. 

Teman-teman juga bisa membaca "kapan saat yang tepat mengembangkan passion" dengan meng KLIK bagian ini.

Passion Canvas.

Untuk memudahkan kami mengidentifikasi lalu mengaktivasi dan nantinya mengembangkan passion kami, kami diminta membuat passion canvas. Pada mulanya saya menggunakan canvas untuk mengidentifikasi perkembangan penjualan dan beberapa training yang saya ikuti, saat ini ternyata terkait passion kami juga bisa menggunakan metode canvas.

Sebagai awal, kami diminta untuk menuliskan 1 passion. Lalu kami menentukan Life stage passion. Kami diminta menentukan sudah masuk di life stage passion mana? Apa saja yang sudah kami lakukan dengan passion tersebut?. Selanjutnya Hard skill. Pada bagian hard skill ini kami diminta menuliskan kemampuan atau ketrampilan apa yang kami perlukan, pendidikan dan pelatihan yang seperti apa yang harus diikuti untuk mengoptimalkan passion kami. Soft skill. Bagian soft skill berisi tentang ketrampilan apa saja yang harus kami miliki, yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, kepribadian, serta kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Berdasarkan canvas passion yang dijelaskan kepada kami, saya mengetahui bahwa hard skill tidak dapat berdiri sendiri, harus dilengkapi dengan soft skill

Selanjutnya kami harus menuliskan tantangan. Tantangan apa saja yang kami hadapi dalam kehidupan ini berkaitan dengan pengembangan passion?. Tantangan tersebut bisa saj berhubungan dengan waktu, akses untuk mencari pengetahuan dan lainnya. Dari tantangan tersebut, mungkin ada orang lain yang mengalami tantangan yang sama, maka konsep ini membawa kita untuk ke tahap selanjutnya, yaitu fokus pada solusi

Setelah mengetahui tantangan yang dihadapi, tugas selanjutnya adalah membuat alternatif solusi. Hal ini dilakukan agar kami mampu melihat kemungkinan solusi 1 dan 2 dalam menghadapi tantangan. Jika kami sudah membuat alternatif solusi dari tantangan yang kami hadapi, langkah selanjutnya adalah membuat Ide. Ide apa saja yang bisa Anda munculkan agar passion kami menjadi bagian dari solusi tersebut. Apa yang bisa kami lakukan sendiri, sebagai individu? 

Project Passion.

Setelah mengisi passion canvas masing-masing, kami lalu membuat project passion. Project passion ini akan menjadi passion to nation yang akan menjadi karya kami bersama teman-teman yang berada dalam 1 co-housing. Sebagai langkah mempersiapkan project passion kami harus memaparkan tantangan-tantangan yang ada dengan co-housing. Kami mendiskusikan passion benang merah passion apa saja yang ada dalam co-housing kami, lalu kami membuat project passion bersama yang langkahnya hampir sama dengan membuat passion canvas..

Membuat project passion yang akan menjadi Passion to Nation nantinya bisa berbentuk produk ataupun jasa. Kami melakukan tahapan diskusi antara lain dengan mengumpulkan masalah, lalu mengembangkan ide dan membuat format project passion yang sesuai dengan co-housing kami.

Di Hexagon City, saya memiliki amanah sebagai sekretaris jendral. Peran yang harus saya pelajari dan jalani dengan kesungguhan. Saya sangat bergairah dan bahagia berada dalam lingkungan yang salaing membantu, berbagi ilmu, inklusif, dan penuh solusi. Tujuan kami melakukan itu semua adalah mewujudkan  Hexagon City sebagai kota virtual yang penuh solusi, maka hal terpenting adalah bagaimana kami bisa bermanfaat bagi teman-teman di sekitar kami dan bermanfaat bagi Hexagon City. 

Gambaran project passion kami adalah :


Sebagai warga kota, kami diminta untuk menunjukkan integritas. Integritas yang kami latih terkait pada karakter moral dan karakter kinerja. Saat ini kami melatih karakter moral yang dimulai dari Moral Knowing (pengetahuan tentang moral), Moral Feeling (perasaan tentang moral) dan Moral Action (segala macam contoh perbuatan moral). Karakter moral yang dilatih di Hexagon City antara lain karanter nurani, percaya diri, empathy, mencintai kebenaran, mampu mengendalikan diri dan kerendahan hati. Tujuannya adalah agar kami bisa melatih diri menuju standart "benar dan baik". Karakter moral ini dibangun melalui tiga hal;
  1. Kompetensi
  2. Keinginan, dan
  3. Kebiasaan
Sementara karakter kinerja yang di latihkan di Hexagon city ini antara lain kewaspadaan, perhatian, kebajikan, keberanian, welas asih, ketekunan dan daya tahan. Secara pribadi latihan-latihan ini membuat saya lebih memiliki kesadaran bahwa apapun yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab adalah peran yang ingin saya lakukan baik di kota virtual kami ini, mau pun hidup di dunia nyata.

Komentar

Postingan Populer

Juma Lau, Tempat Wisata Asri Dekat dari Medan

Let's Read, Menumbuhkan minat baca dengan menyenangkan.

Tentang Olfactory dan Gustatory